Akankah Iran Mundur dari Perjanjian Nonproliferasi Nuklir?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Para anggota parlemen Iran sedang mempertimbangkan kemungkinan keluarnya Iran dari Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT) sebagai respons terhadap tekanan ekonomi AS. Ghasem Ravanbakhsh dan Ebrahim Rezaei mengusulkan penarikan diri, namun belum ada keputusan akhir karena masih ada hambatan politik dan hukum di dalam Iran. Iran menandatangani NPT pada 1970 dan berkomitmen tidak mengembangkan senjata nuklir. Setiap anggota dapat menarik diri dengan pemberitahuan tiga bulan sebelumnya. Namun, analis seperti Behrooz Bayat dan Shahin Modarres berpendapat bahwa ancaman keluar lebih berguna sebagai alat tawar-menawar diplomasi daripada kebijakan nyata. Mereka khawatir penarikan diri dapat meningkatkan tekanan internasional dan risiko konflik militer. Iran juga telah mengurangi pengawasan IAEA, termasuk menangguhkan akses inspektur pada Juli 2025. Menurut Modarres, tetap menjadi anggota NPT sambil membatasi inspeksi memberi Iran keuntungan lebih karena menjaga ketidakpastian tanpa harus secara terbuka meninggalkan perjanjian. IAEA melaporkan Iran memiliki sekitar 440 kilogram uranium terlarut hingga 60%, hanya selangkah dari tingkat 90% yang diperlukan untuk senjata nuklir. Para analis meyakini bahwa pembicaraan ini lebih ditujukan untuk mendesak negosiasi dengan AS dan Eropa.
Bagikan
Berita terkait
Iran Isyaratkan Ubah Doktrin Nuklir setelah Diserang AS
SINDOnews · 24 Agustus 2026 pukul 07.32
Iran Kecam Keras Modernisasi Persenjataan Nuklir AS
Detik.com · 7 Agustus 2026 pukul 13.57
Iran: Perluasan Persenjataan Nuklir AS Ancaman bagi Seluruh Umat Manusia!
SINDOnews · 7 Agustus 2026 pukul 07.48
Kedutaan Iran Respons soal Isu Punya Nuklir, Beri Pernyataan Ini
CNBC Indonesia · 3 Agustus 2026 pukul 22.00