Algoritma dan Memudarnya Memori Fisik Peradaban
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Laporan ini menggambarkan praktik perusakan manuskrip langka dan buku kuno secara sistematis demi melatih model kecerdasan buatan (AI). Jilid-jilid buku berusia ratusan tahun dibongkar paksa, halaman dipotong, dan kertas sejarah hancurkan agar dapat dipindai secara otomatis. Tindakan ini mencerminkan sikap reduksionisme radikal di mana seluruh pengetahuan manusia dikompres menjadi teks digital, sementara nilai historis dan konteks fisiknya diabaikan begitu saja.
Akibatnya, bukan hanya hilangnya artefak sejarah yang unik dan berharga, tetapi juga kehilanganannya konteks otentik yang tersimpan dalam tekstur kertas, jenis tinta, dan catatan pinggir (marginalia). Tanpa benda fisik asli, masyarakat ilmiah di masa depan kehilangan ground truth untuk memverifikasi keaslian naskah. Selain itu, versi digital yang tersisa rentan terhadap erosi format, manipulasi algoritma, dan kontrol monopersentif oleh korporasi teknologi.
Fenomena ini mencerminkan kapitalisme ekstraktif modern dan fetisisme data, di mana warisan budaya dijadikan komoditas untuk kepentungan komersial. Untuk menghentikannya, laporan ini menyerukan moratorium internasional terhadap pemindaian destruktif, regulasi etika data yang ketat, dan investasi pada teknologi pemindaian nondestruktif agar teknologi bisa melindari—bukan menghancurkan—memori kolektif manusia.
Bagikan
Berita terkait
Matematikawan Top Peringatkan soal Pesatnya AI, Manusia Terlalu 'Polos'
Detik.com · 23 September 2026 pukul 05.45
Microsoft Rilis Kode Etik Pengembangan AI tak Boleh Lampaui Manusia
Media Indonesia · 16 September 2026 pukul 08.17
Museum Jakarta Jangan Hanya Menjadi Gudang Sejarah
kumparan · 12 September 2026 pukul 19.00
Dewan Profesor Atma Jaya dan Komdigi Soroti Tantangan AI bagi Jurnalisme
Media Indonesia · 11 September 2026 pukul 10.30