Jakarta · Jumat, 11 September 2026Cari
WargaKonoha

Aliansi BRICS Satukan Kekuatan di India, Saatnya Barat Gemetar?

India secara resmi menjadi tuan rumah KTT BRICS pada 12-13 September 2026, di tengah upaya blok untuk memperkuat posisinya di kancah global. KTT ini berlangsung enam bulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, yang baru saja bergabung sebagai anggota BRICS pada 2024 bersama Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Mesir, Etiopia, dan Indonesia. Meskipun BRICS didesain untuk menantang tatanan dunia yang dipimpin Barat, para analis menekankan bahwa blok ini masih kesulitan membangun alternatif kelembagaan yang koheren. Kelemahan struktural terlihat pada ketergantungan perdagangan mayoritas anggota yang masih menggunakan dolar AS sebagai mata uang transaksi utama. Secara ekonomi, BRICS mewakili hampir separuh populasi dunia, 40% output global, 44% produksi minyak, dan sekitar seperempat perdagangan dunia. Proyeksi pertumbuhan blok mencapai 3,7% pada 2026, jauh melampaui G7 yang tertahan di level 1%. Namun, Bank Pembangunan Baru (NDB) yang didirikan BRICS hanya berhasil menyetujui pendanaan sekitar US$39 miliar pada akhir 2024, jauh di bawah komitmen Bank Dunia. Para ahli menilai bahwa meskipun ada upaya untuk mengembangkan mata uang alternatif, hegemoni dolar AS tidak akan terancam serius dalam satu dekade ke depan. Di ranah geopolitik, perluasan anggota justru memicu kebingungan dan melemahkan kohesi internal. BRICS tidak memiliki komitmen pertahanan kolektif, dan kebingungan terlihat saat pertemuan menteri luar negeri pada Mei 2026 gagal menghasilkan pernyataan bersama akibat kebuntuan antara Iran dan UEA terkait kritik terhadap AS dan Israel. Para ahli menyimpulkan bahwa BRICS lebih berfungsi sebagai platform kemandirian bagi negara-negara Global South daripada sebagai penghancur dominasi Barat yang terkoordinasi.

Berita terkait