Anak dan Perempuan Jadi Kelompok Rentan saat Bencana, Dibayangi Trauma serta Putus Sekolah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Anak perempuan merupakan kelompok yang paling rentan ketika terjadi bencana. Mereka tidak hanya menghadapi kerusakan fisik, tetapi juga mengalami trauma, kehilangan rasa aman, gangguan pendidikan, tekanan psikologis, hingga meningkatnya risiko kekerasan dan perkawinan anak. Dampak jangka panjang ini membutuhkan penanganan yang komprehensif sejak fase persiapan hingga pemulihan.
Chief Impact Officer Plan International, Pete Manfield, menekankan bahwa krisis iklim semakin sering terjadi dan dampaknya semakin besar. Oleh karena itu, pendekatan bencana tidak bisa hanya mengandalkan respons pasca-kejadian. Masyarakat perlu dipersiapkan sebelumnya melalui penguatan kapasitas komunitas, organisasi lokal, sekolah, dan pemerintah agar dapat menghadapi risiko yang tidak pasti.
Pete menyarankan pendekatan berbasis komunitas di mana pengetahuan dan kapasitas lokal menjadi bagian dari sistem kesiapsiagaan. Hal ini termasuk memperkuat kesiapsiagaan sekolah, melatih guru dan tenaga pendidikan untuk situasi darurat, serta menyiapkan sistem perlindungan anak agar anak yang terpisah dari keluarga selama evakuasi dapat dengan cepat ditemukan dan dipertemukan kembali. Selain itu, kesehatan mental juga perlu dikelola dalam proses pemulihan, karena pemulihan bukan hanya tentang membangun kembali infrastruktur fisik.
Bagikan
Berita terkait
Petaka El Nino Makin Parah, Ilmuwan Peringatkan Dampaknya di Indonesia
CNBC Indonesia · 12 Agustus 2026 pukul 15.30
Human Initiative Bersama Songs for Sumatera Resmikan Gedung Sekolah MIN 4 Aceh Tamiang
JPNN.com · 11 Agustus 2026 pukul 10.01
Menko Polkam: El Nino Percepat Kebakaran Hutan dan Lahan
CNN Indonesia · 10 Agustus 2026 pukul 16.58
Menghadapi El Nino Godzilla: Moratorium Bakar Lahan Demi Keselamatan Publik
SINDOnews · 5 Agustus 2026 pukul 11.28