Pendidikan untuk Menyelamatkan Hidup
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Perubahan iklim semakin sering menutup sekolah akibat bencana seperti banjir, gempa, dan kebakaran hutan. Di Nepal, sekolah di Trishuli Valley kehilangan bangunan akibat banjir bandang, sementara di Indonesia, banjir dan longsor pada November-Desember 2025 mengganggu 3.274 satuan pendidikan dan 276.249 siswa. Asap kebakaran hutan juga berpotensi mengancam 54.743 sekolah di 12 provinsi Kalimantan. Penutupan sekolah ini bukan sekadar interupsi biasa, melainkan ancaman nyata terhadap hak pendidikan anak. Menurut UNICEF, sekitar 242 juta anak global terdampak penutupan sekolah akibat iklim pada 2024. Sekolah perlu ditransformasi menjadi ruang yang tahan iklim, ramah lingkungan, dan relevan dengan kurikulum berbasis perubahan iklim. PJJ harus menjadi bagian dari skenario belajar normal, namun tidak cukup tanpa infrastruktur digital yang merata. Integrasi kebijakan antara anggaran pendidikan, kebencanaan, dan iklim menjadi kunci agar rekomendasi pedagogis dapat diwujudkan secara nyata.
Bagikan
Berita terkait
FOTO: Dikepung Asap Karhutla, Ribuan Siswa Belajar dari Rumah
CNN Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 16.48
Ratusan Ruang Kelas SMP di Cianjur Rusak Berat, Disdikpora Lakukan Revitalisasi
Media Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 19.49
Anak dan Perempuan Jadi Kelompok Rentan saat Bencana, Dibayangi Trauma serta Putus Sekolah
SINDOnews · 14 Agustus 2026 pukul 15.37
Sekolah Terdampak Bencana hingga Wilayah 3T Prioritas Direvitalisasi
CNN Indonesia · 12 September 2026 pukul 03.00