Anger Economy dan Terbentuknya Masyarakat Pemarah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel menganalisis fenomena "anger economy" di mana kemarahan masyarakat dikomodifikasi oleh algoritma media sosial untuk keuntungan. Pola sirkular terbentuk: tekanan sistemik (ekonomi, kesehatan, pendidikan) memicu perilaku profesional yang tidak etis, yang lalu viral dan memicu amarah massal. Tiga kasus — tenaga kesehatan, guru, dan polisi — menunjukkan kesamaan: pelanggaran etika relasi dasar (menghargai, memberdayakan, melayani) oleh otoritas. Algoritma (Różycki, Phoshoko, 2025) direkayasa memprioritaskan "rage bait" — konten memicu gejolak emosi — karena engagement (reaksi, komentar, share) mendatangkan keuntungan platform. Mekanisme psikologisnya adalah "pengambilalihan ketidakberdayaan": publik mengimajinasikan ketidakberdayaan korban dan menyalurkannya sebagai kemarahan digital. Reaksi kompleks ini memakan waktu perhatian lama, dibaca algoritma sebagai sinyal kualitas, lalu dipromosikan lebih luas. Dampaknya merusak: kerusakan psikologis, fragmentasi sosial, degradasi wacana publik, dan kepercayaan realitas yang erosi. Masyarakat terjebak lingkaran kemarahan sebagai satu-satunya jalan mengekspresikan ketidaknyamanan, sering tanpa menyadari apakah marah memecahkan masalah atau sekadar bahan monetisasi platform. Fenomena ini global, bukan khas Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Hukuman 10 Tahun Penjara bagi Pelaku Tawuran Maut di Bekasi
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 07.54
10 Link Twibbon 17 Agustus 2026 Terbaik untuk Diunggah ke Media Sosial
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 06.23
Rp700 Ribu per Kg vs Rp34 Ribu: Heboh Upah Kupas Bawang ala Prabowo
Warta Ekonomi · 16 Agustus 2026 pukul 00.30
Google Rilis Creator Suite di Pixel 11, Incar Para Kreator Konten Pemula
Detik.com · 15 Agustus 2026 pukul 18.31