Anger Economy dan Terbentuknya Masyarakat Pemarah
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel menganalisis fenomena "anger economy" di mana kemarahan masyarakat dikomodifikasi oleh algoritma media sosial untuk keuntungan. Pola sirkular terbentuk: tekanan sistemik (ekonomi, kesehatan, pendidikan) memicu perilaku profesional yang tidak etis, yang lalu viral dan memicu amarah massal. Tiga kasus — tenaga kesehatan, guru, dan polisi — menunjukkan kesamaan: pelanggaran etika relasi dasar (menghargai, memberdayakan, melayani) oleh otoritas. Algoritma (Różycki, Phoshoko, 2025) direkayasa memprioritaskan "rage bait" — konten memicu gejolak emosi — karena engagement (reaksi, komentar, share) mendatangkan keuntungan platform. Mekanisme psikologisnya adalah "pengambilalihan ketidakberdayaan": publik mengimajinasikan ketidakberdayaan korban dan menyalurkannya sebagai kemarahan digital. Reaksi kompleks ini memakan waktu perhatian lama, dibaca algoritma sebagai sinyal kualitas, lalu dipromosikan lebih luas. Dampaknya merusak: kerusakan psikologis, fragmentasi sosial, degradasi wacana publik, dan kepercayaan realitas yang erosi. Masyarakat terjebak lingkaran kemarahan sebagai satu-satunya jalan mengekspresikan ketidaknyamanan, sering tanpa menyadari apakah marah memecahkan masalah atau sekadar bahan monetisasi platform. Fenomena ini global, bukan khas Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Negara Ini Mau Ubah Algoritma Media Sosial, AS Panas-Langsung Protes
CNBC Indonesia · 23 September 2026 pukul 20.45
Wamenkomdigi Nezar Ungkap Bahaya Algoritma Media Sosial, Bisa Bikin Terjebak Echo Chamber
JawaPos · 15 September 2026 pukul 11.30
Pemerintah Australia Usulkan Pengguna Medsos Bisa Pilih Algoritma Sendiri
JPNN.com · 11 September 2026 pukul 23.44
Wamenkomdigi Ungkap Algoritma Kini Pegang Kendali Distribusi Informasi
Warta Ekonomi · 11 September 2026 pukul 15.03