Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Anger Economy dan Terbentuknya Masyarakat Pemarah

Artikel menganalisis fenomena "anger economy" di mana kemarahan masyarakat dikomodifikasi oleh algoritma media sosial untuk keuntungan. Pola sirkular terbentuk: tekanan sistemik (ekonomi, kesehatan, pendidikan) memicu perilaku profesional yang tidak etis, yang lalu viral dan memicu amarah massal. Tiga kasus — tenaga kesehatan, guru, dan polisi — menunjukkan kesamaan: pelanggaran etika relasi dasar (menghargai, memberdayakan, melayani) oleh otoritas. Algoritma (Różycki, Phoshoko, 2025) direkayasa memprioritaskan "rage bait" — konten memicu gejolak emosi — karena engagement (reaksi, komentar, share) mendatangkan keuntungan platform. Mekanisme psikologisnya adalah "pengambilalihan ketidakberdayaan": publik mengimajinasikan ketidakberdayaan korban dan menyalurkannya sebagai kemarahan digital. Reaksi kompleks ini memakan waktu perhatian lama, dibaca algoritma sebagai sinyal kualitas, lalu dipromosikan lebih luas. Dampaknya merusak: kerusakan psikologis, fragmentasi sosial, degradasi wacana publik, dan kepercayaan realitas yang erosi. Masyarakat terjebak lingkaran kemarahan sebagai satu-satunya jalan mengekspresikan ketidaknyamanan, sering tanpa menyadari apakah marah memecahkan masalah atau sekadar bahan monetisasi platform. Fenomena ini global, bukan khas Indonesia.

Berita terkait