Banyuwangi Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307718/original/087615600_1754476754-1000380229.jpg)
Banyuwangi dikenal sebagai percontohan pengelolaan sampah berbasis masyarakat melalui Program Banyuwangi Hijau. Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyatakan bahwa sistem pengelolaan sampah di Banyuwangi termasuk terbaik di Indonesia, sehingga layak dikembangkan menjadi model nasional. Pengakuan ini muncul setelah ia mengunjungi Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS 3R) di Balak, Kecamatan Songgon. Program ini berkembang dari Proyek STOP yang dimulai di Kecamatan Muncar pada 2018, kemudian mendapat dukungan internasional dari Austria, Norwegia, dan Uni Emirat Arab (UAE). Pada fase pertama dan kedua, Austria dan Norwegia mendukung pembangunan infrastruktur seperti TPST Blak yang mampu mengolah hingga 80 ton sampah per hari. Fase ketiga pada 2024 difokuskan UAE pada penguatan pengelolaan dari hulu hingga hilir, termasuk edukasi, pemilahan, sarana, pengangkutan, dan pengolahan.
Hingga Mei 2026, Program Banyuwangi Hijau telah menjangkau 73 desa dengan 23.410 rumah tangga atau sekitar 500.000 jiwa. TPS 3R Balak sendiri telah memproses lebih dari 14.145 ton sampah sejak beroperasi. Sistem ini menekankan pentingnya pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumber, bukan hanya di tempat pembuangan akhir. Dengan demikian, Banyuwangi diusulkan sebagai contoh pengelolaan sampah yang dapat ditiru daerah lain di Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Banyuwangi Dapat Bantuan Armada Sampah dari UEA, Layani 75 Desa
Liputan6.com · 21 Agustus 2026 pukul 11.08
Reformasi Sistem Pengelolaan Sampah DKI, Bantargebang Khusus Residu
CNN Indonesia · 30 Juli 2026 pukul 19.25
Ini Tol Baru di Jawa Timur Sebentar Lagi Dibuka, ke Bali Secepat Kilat
CNBC Indonesia · 23 Agustus 2026 pukul 20.45
Saling Gempur, Giliran Drone Ukraina Tewaskan 2 Anak di Rusia
Detik.com · 22 Agustus 2026 pukul 17.53