Begini Dampak Buruk Menghirup Abu Vulkanik bagi Paru-paru, Jangan Disepelekan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda erupsi menerus sejak 4 September 2026 dengan intensitas tertinggi tahun itu, menghasilkan suara gemuruh dan dentuman terdengar hingga pesisir Banten dan Lampung. Abu vulkanik pun tersebar luas hingga ke Jabodetabek dan berbagai wilayah Indonesia. Menurut Prof. Tjandra Yoga Aditama, Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), abu vulkanik mengandung mineral, bebatuan, dan partikel kaca yang bila terhirup dapat menyebabkan batuk, iritasi tenggorok, bronkitis, serta memburukkan kondisi penyakit paru kronik seperti asma dan PPOK. Selain itu, abu juga dapat menyebabkan iritasi kulit dan mata. Prof. Tjandra menekankan agar masyarakat tetap waspada dan menghindari terpapar asap vulkanik secara langsung.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
CNN Indonesia · 5 September 2026 pukul 20.33
Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak ke Barat, Bandar Lampung Hujan Abu
Warta Ekonomi · 5 September 2026 pukul 13.00
Dokter Tifa: Dentuman Anak Krakatau Sudah Jadi Sorotan Dunia
CNBC Indonesia · 5 September 2026 pukul 08.37
Heboh Dentuman Keras di Bandung-Cianjur, Efek Gunung Krakatau Erupsi?
CNN Indonesia · 6 September 2026 pukul 11.40
Masih Erupsi, Badan Geologi Ungkap Potensi Bahaya Gunung Anak Krakatau
Berita terkait
Abu Krakatau Sampai Jakarta, Pemprov Minta Warga Tidak Panik
CNN Indonesia · 6 September 2026 pukul 10.35
FOTO: Penampakan Lava Pijar yang Dimuntahkan Gunung Anak Krakatau
CNN Indonesia · 6 September 2026 pukul 10.10
Penutupan Bandara Soetta Diperpanjang hingga Pukul 13.30 WIB
CNN Indonesia · 6 September 2026 pukul 09.54
Aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau
ANTARA News · 6 September 2026 pukul 09.31