Belajar Rasa Aman
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pasca-gempa di NTT yang menimbulkan 1.378 satuan pendidikan dan 502 sekolah terdampak, berbagai inisiatif muncul untuk memulihkan dan memperkuat sistem pendidikan. Di Sekolah Sukma Bangsa Lhokseumawe, praktik kelas persiapan rutin 30 menit setiap pagi menjadi fondasi untuk menciptakan ikatan emosional antara guru dan siswa. Pendekatan ini berlandaskan teori Abraham Maslow tentang rasa aman sebagai fondasi perkembangan manusia serta teori Lev Vygotsky tentang peran interaksi sosial dalam kognisi. Wali kelas memainkan peran krusial sebagai teladan, pembimbing, motivator, fasilitator, dan komunikator dalam proses pembelajaran yang holistik. Rutinitas pagi ini tidak hanya membangun kepercayaan, tetapi juga membantu mengidentifikasi kendala non-akademik siswa, sehingga proses belajar menjadi lebih bermakna dan efektif. Paralel dengan itu, Timothy Ronald melalui Ronald Foundation meresmikan sekolah ke-5 di Sumba Timur sebagai bagian dari program membangun 1.000 sekolah di Indonesia, sekaligus menyoroti pentingnya investasi jangka panjang dalam infrastruktur pendidikan daerah terpencil.
Bagikan
Berita terkait
Pascagempa NTT, 923 Sekolah Belajar dari Rumah, 171 Sekolah Daring
Media Indonesia · 23 Agustus 2026 pukul 15.55
Komisi X DPR Mutakhirkan Data Sekolah Rusak Pascagempa NTT 7,7 M
Media Indonesia · 21 Agustus 2026 pukul 20.13
Gempa NTT, 1.378 Sekolah Terdampak dan 38 Ribu Warga Sekolah Mengungsi
VOI · 21 Agustus 2026 pukul 13.45
Kemendikdasmen bagikan 100 tenda darurat sekolah terdampak gempa NTT
ANTARA News · 20 Agustus 2026 pukul 19.08