Bumi Ternyata Makin Bulat Sekaligus Gepeng, ini Penyebabnya
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Bumi tidak hanya berbentuk bulat sempurna, melainkan terus mengalami perubahan bentuk akibat pergeseran massa di permukaannya. Penelitian menggunakan data Global Navigation Satellite System (GNSS) menunjukkan bahwa mencairnya lapisan es di Greenland dan Antarktika menyebabkan permukaan di kutub naik dan kawasan khatulistiwa turun. Fenomena ini dikenal sebagai glacial isostatic adjustment, di mana tekanan es yang menekan permukaan Bumi berkurang seiring pencairan, sehingga daratan di bawahnya mengangkat. Proses ini membuat bentuk padat Bumi sedikit lebih bulat atau tidak terlalu gepeng dibanding sebelumnya.
Namun, perpindahan massa air hasil pencairan es ke lautan justru memengaruhi bentuk gravitasi Bumi atau geoid, sehingga Bumi terasa semakin gepeng dari sisi gravitasinya. Dengan demikian, "makin bulat sekaligus gepeng" merujuk pada dua aspek berbeda: bentuk fisik padat Bumi yang lebih bulat dan bentuk gravitasi yang lebih gepeng. Perubahan ini berlangsung sangat lambat dan hanya terdeteksi melalui pengukuran geodesi berpresisi tinggi.
Selain itu, perubahan distribusi es dan air juga memengaruhi rotasi Bumi. Pencairan es dan perpindahan air ke wilayah lintang rendah mengubah distribusi massa planet, yang dapat memperlambat rotasi Bumi dan memengaruhi posisi sumbu rotasinya. Meskipun perubahan ini terjadi dalam skala yang sangat kecil, dampashannya dapat diamati melalui pengamatan satelit dan instrumen geodesi canggih.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Detik.com · 17 September 2026 pukul 15.30
Bumi Berubah Bentuk Makin Bulat Sekaligus Gepeng, Ini Penyebabnya
Berita terkait
NASA Ungkap Pusat Massa Bumi Bergeser akibat Perubahan Musim
Media Indonesia · 17 September 2026 pukul 22.20
Menteri AHY Benar, Bukti Kondisi Indonesia Sudah Genting Makin Banyak
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 20.20
Ahli Ungkap Penyebab dan Dampak Menjauhnya Bulan dari Bumi
CNN Indonesia · 17 September 2026 pukul 07.15
Investor Asing Jual Bersih Rp664 Miliar di Sesi I, Saham ANTM hingga BUMI Jadi Sasaran Utama
Warta Ekonomi · 14 September 2026 pukul 13.47