Cipasung 1994 dan Muktamar ke-35 NU: Ketika Sejarah Kembali Mengusik
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Muktamar ke-29 NU di Cipasung 1994 menjadi momen krusial dalam hubungan antara organisasi NU dan negara di bawah Orde Baru. Pada muktamar tersebut, Gus Dur yang kritis terhadap pemerintah bertarung melawan Abu Hasan yang diduga mendapat dukungan pemerintah. Pertarungan ini melambangkan pertarungan antara otonomi organisasi masyarakat sipil dan penetrasi negara. Gus Dur berhasil terpilih kembali, menjadi simbol kemampuan NU mempertahankan kedaulatannya di tengah tekanan rezim otoriter.
Tiga puluh dua tahun kemudian, menjelang Muktamar ke-35 NU di Tambakberas 2026, dinamika yang serupa kembali terlihat. Meskipun konteks politik Indonesia telah berubah drastis sejak 1994, pola pertarungan antara petahana dan kandidat alternatif yang dianggap dekat dengan kekuasaan tetap relevan. Muktamar ke-35 tidak bisa disebut sebagai 'Cipasung jilid dua', namun logika politiknya yang sama—tentang sejauh mana negara boleh memengaruhi arah kepemimpinan NU—tetap menjadi pertanyaan sentral.
NU hari ini lebih beragam dan terbuka dibandingkan masa Orde Baru, namun isu keindependenan organisasi masih menjadi tantangan. Kehadapanan seorang petahana menghadapi kandidat alternatif yang dipersepsikan dekat dengan kekuasaan dapat mengubah muktamar dari forum evaluasi internal menjadi medan pertarungan identitas dan kedaulatan organisasi.
Bagikan
Berita terkait
Yenny Wahid: Rekonsiliasi Mutlak Dilakukan usai Muktamar ke-35 NU
JawaPos · 19 Agustus 2026 pukul 19.15
Warga NU Minta Presiden Prabowo Pastikan Istana tak Intervensi Muktamar ke-35
Media Indonesia · 18 Agustus 2026 pukul 15.44
Jelang Muktamar ke-35, Forum Ulama Nahdliyin Soroti Konsesi Tambang hingga Isu Otokrasi PBNU
Media Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 21.34
Kiai Sepuh Lirboyo Beri Pesan Mendalam Jelang Muktamar ke-35 NU
SINDOnews · 26 Agustus 2026 pukul 21.04