Defisit Transaksi Berjalan Tembus 3,3%, Ekonomi Indonesia Baik-baik Saja?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Defisit transaksi berjalan Indonesia mencapai 3,3% pada kuartal II 2026, didorong penyusutan surplus neraca perdagangan barang dan meningkatnya defisit neraca jasa serta pendapatan primer. Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro menjelaskan bahwa perkecilnya surplus perdagangan membuat current account deficit semakin tertekan, sekaligus meningkatnya pembayaran dividen dan repatriasi pendapatan ke luar negeri memperlebar defisit tersebut.
Andry menekankan pentingnya dukungan dari surplus neraca finansial melalui alirannya investasi langsung dan portofolio ke pasar saham dan obligasi. Arus modal masuk ini dianggap krusial untuk menyeimbangkan tekanan eksternal dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Tanpa surplus finansial yang memadai, lanjut Andry, defisit transaksi berjalan yang terus melebar berisiko menambah tekanan pada keseimbangan eksternal ekonomi Indonesia.
Bagikan
Berita terkait
Defisit Transaksi Berjalan RI Melebar Jadi US$3,6 Miliar di Kuartal II
Warta Ekonomi · 21 Agustus 2026 pukul 12.20
Defisit Transaksi Berjalan Kuartal II-2026 Naik ke 12,5 miliar dolar AS
VOI · 21 Agustus 2026 pukul 13.05
Ekonom Sebut Tak Mudah Bikin Rupiah Menguat ke Depan
Detik.com · 30 Agustus 2026 pukul 18.00
Menko Airlangga Ungkap Investasi Jepang ke RI Capai USD 1,9 Miliar pada Semester I 2026
JawaPos · 28 Agustus 2026 pukul 17.00