Gagal Paham, Bisnis, dan HAM
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel ini membahas kritik terhadap rencana pemerintah mengubah penilaian kepatuhan Bisnis dan HAM (BHAM) dari sukarela menjadi wajib. Kekhawatiran utama terletak pada risiko 'audit culture', di mana perusahaan hanya fokus membuktikan kepatuhan formal tanpa benar-benar melindungi pekerja, masyarakat, dan lingkungan.
Namun, penulis menekankan bahwa Human Rights Due Diligence (HRDD) seharusnya dipahami sebagai mekanisme pengetahuan dan aksi, bukan sekadar pembuktian kepatuhan. Berdasarkan UNGPs, HRDD adalah proses identifikasi, penilaian, dan penanganan risiko HAM. Data menunjukkan 77% perusahaan dengan HRDD khusus berhasil mengidentifikasi dampak buruk HAM, jauh lebih efektif dibanding proses due diligence nonspesifik yang gagal mengidentifikasi risiko pada lebih dari 80% kasus.
Bagikan
Berita terkait
Manajemen Fasilitas Bantu Perusahaan Jalankan Bisnis Yang Hormati HAM
CNBC Indonesia · 7 September 2026 pukul 15.04
Zuckerberg Tak Setuju AI Direm, Sebut Perusahaan Bisa Jaga Diri
CNN Indonesia · 17 September 2026 pukul 18.15
Data Warga RI Dipakai Asing Latih AI, Langgar Aturan atau Tidak?
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 17.20
Menkop Ferry: Penempatan 28.626 Manajer KDMP Dilakukan Pekan Depan
Media Indonesia · 17 September 2026 pukul 17.15