Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Geger Muncul Virus Langka yang Belum Punya Obatnya, Picu Kekhawatiran

Virus Bourbon, sejenis virus langka yang ditularkan melalui gigitan kutu lone star, baru terdeteksi pertama kali di New York AS. Hingga kini, belum tersedia vaksin maupun obat untuk virus ini. Sejumlah ilmuwan khawatir virus ini mungkin sudah tersebar lebih luas karena gejalanya mirip dengan penyakit lain yang ditularkan kutu, sehingga sering terlewat dari diagnosis. Virus ini pertama kali diidentifikasi pada 2014 di Bourbon County, Kansas, dan hingga kini hanya tercatat enam kasus infeksi pada manusia, sebagian besar di wilayah tengah AS. Pasien pertama yang terdiagnosis pada 2014 dilaporkan meninggal dunia.

Infeksi virus Bourbon dapat menyebabkan demam, kelelahan, ruam, sakit kepala, nyeri tubuh, mual, dan muntah. Karena gejalanya mirip dengan penyakit lain, diagnosis awal seringkali sulit. Dalam studi yang dilakukan oleh Stony Brook Medicine, ilmuwan menganalisis darah 107 pasien dengan demam dan gejala setelah digigit kutu di Suffolk County antara 2019 dan 2024. Dua orang ditemukan memiliki antibodi virus Bourbon, termasuk seorang pria berusia 67 tahun dari Long Island yang menjadi kasus pertama terkonfirmasi di New York. Pasien ini awalnya diduga menderita penyakit Lyme dan mendapat antibiotik doksisiklin, namun gejala tidak membaik hingga akhirnya terkonfirmasi infeksi virus Bourbon.

Para peneliti menyoroti peningkatan populasi kutu lone star di New York dan wilayah timur laut AS sebagai faktor risiko penyebaran virus Bourbon. Dr. Luis Marcos dari Stony Brook Medicine menyatakan bahwa virus ini kemungkinan lebih umum daripada yang diperkirakan karena gejalanya mirip dengan infeksi lain yang ditularkan kutu. Hingga kini, belum tersedia tes diagnostik komersial, sehingga sampel pasien yang dicurigai harus dikirim ke Dinas Kesehatan Negara Bagian New York untuk pemeriksaan khusus. Para ilmuwan mendesak peningkatan pengawasan dan kapasitas pengujian untuk mempercepat pengembangan alat diagnosis dan terapi yang efektif.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait