Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Geramnya Spanyol Lihat Sikap Uni Eropa soal Krisis Imigrasi Ceuta

Krisis imigrasi besar terjadi di Ceuta, wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara, ketika sekitar 60.000 migran ilegal dari Maroko masuk secara massal pada 30 Juli 2026. Setidaknya 67 orang tewas dalam lonjakan penyeberangan tersebut. Spanyol berhasil memulangkan hampir semua migran dalam kurang dari 48 jam dan mulai membangun penghalang maritim.

Krisis memicu ketegangan diplomatik besar di Eropa. Spanyol mengutuk reaksi beberapa negara Uni Eropa yang dianggap egois, memecah belah, dan melanggar hukum. Italia menangguhkan perjanjian Schengen dengan Spanyol selama sebulan, didukung Finlandia, Denmark, dan Ceko. Sementara itu, 22 dari 27 negara anggota UE menyerukan pembicaraan darurat. PM Spanyol Pedro Sanchez menekankan bahwa keamanan perbatasan Eropa adalah tanggung jawab bersama.

Perdebatan makin memanas ketika politisi Spanyol menuding keterlibatan AS dan Israel di balik krisis ini. Hal ini terkait memburuknya hubungan Spanyol-Israel sejak perang Gaza dimulai, di mana Spanyol termasuk negara Eropa paling kritis terhadap Israel. Duta Besar Israel untuk PBB Danny Danon menyindir Spanyol soal wilayah kolonialnya, sementara Dubes Israel untuk Spanyol menegaskan komentar Danon tidak mewakili posisi Israel.

Berita terkait