Jakarta · Jumat, 4 September 2026Cari
WargaKonoha

Gresik dan Ironi Wisata Sejarah: Ramai di Makam, Sepi di Kedaton

Gresik sedang ramai dibicarakan karena patung Gajah Mungkur yang dikabarkan menelan anggaran Rp1 miliar sebagai ikon baru kota. Namun, artikel ini menyoroti ironi di mana perhatian publik lebih tertarik pada ikon baru dibandingkan peninggalan sejarah yang sudah ada. Sejarah Gresik yang kaya tidak hanya terletak pada industri semen, melainkan juga pada peran pentingnya sebagai pusat perdagangan sejak abad ke-11 hingga masa Majapahit, serta perkembangan Islam melalui tokoh-tokoh seperti Sunan Giri.

Sunan Giri, salah satu dari Wali Songo, dikenang melalui makamnya yang ramai dikunjungi, namun jejak kehidupannya seperti Giri Kedaton—pusat pemerintahannya—kurang mendapat perhatian. Makam hanya menunjukkan akhir perjalanan hidup, sementara peninggalan seperti kedaton memberi pemahaman tentang bagaimana ia hidup, memimpin, dan membangun pengaruhnya. Artikel menekankan pentingnya melanjutkan ziarah tidak hanya pada makam, tetapi juga pada tempat sejarah untuk memahami konteks hidup para tokoh tersebut.

Gresik sebenarnya memiliki banyak warisan sejarah lain seperti Sunan Maulana Malik Ibrahim, Sunan Prapen, dan Dewi Sekardadu. Ikon baru memiliki tempatnya, namun sejarah yang telah ada sejak berabad-abad lalu tidak harus terpinggirkan. Kota perlu menyeimbangkan antara membangun identitas baru dan melestarikan memori sejarah yang sudah lama ada.

Berita terkait