Jakarta · Minggu, 16 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Ini Biang Kerok Kenaikan Harga Beras

Pengamat pertanian Khudori menilai beras fortifikasi bukan biang kerok kenaikan harga beras yang terjadi sepanjang 2026. Ia menjelaskan bahwa beras yang diperkaya vitamin dan mineral ini memiliki volume edar sangat terbatas, sehingga pengaruhnya terhadap harga rata-rata beras secara keseluruhan tidak signifikan. Meski beras fortifikasi dijual lebih mahal lantaran nilai tambah gizi, jumlah produsen dan total produksinya masih sedikit. Keberadaannya di ritel modern pun tidak serta-merta membuktikan produsen beras premium telah beralih fokus memproduksinya.

Penyebab utama kenaikan harga, menurut Khudori, adalah naiknya harga gabah di tingkat petani dan melandainya produksi pascapanen raya. Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah daerah bahkan sudah melampaui Rp 8.000 per kilogram, sementara harga pembelian pemerintah (HPP) ditetapkan hanya Rp 6.500 per kilogram. Karena gabah adalah bahan baku beras, lonjakan harga bahan baku langsung mendongkrak harga konsumen. Kondisi ini menunjukkan kebijakan fortifikasi tidak tepat dijadikan kambing hitam atas mahalnya beras saat ini.

Berita terkait