Ini Biang Kerok Kenaikan Harga Beras
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pengamat pertanian Khudori menilai beras fortifikasi bukan biang kerok kenaikan harga beras yang terjadi sepanjang 2026. Ia menjelaskan bahwa beras yang diperkaya vitamin dan mineral ini memiliki volume edar sangat terbatas, sehingga pengaruhnya terhadap harga rata-rata beras secara keseluruhan tidak signifikan. Meski beras fortifikasi dijual lebih mahal lantaran nilai tambah gizi, jumlah produsen dan total produksinya masih sedikit. Keberadaannya di ritel modern pun tidak serta-merta membuktikan produsen beras premium telah beralih fokus memproduksinya.
Penyebab utama kenaikan harga, menurut Khudori, adalah naiknya harga gabah di tingkat petani dan melandainya produksi pascapanen raya. Harga gabah kering panen (GKP) di sejumlah daerah bahkan sudah melampaui Rp 8.000 per kilogram, sementara harga pembelian pemerintah (HPP) ditetapkan hanya Rp 6.500 per kilogram. Karena gabah adalah bahan baku beras, lonjakan harga bahan baku langsung mendongkrak harga konsumen. Kondisi ini menunjukkan kebijakan fortifikasi tidak tepat dijadikan kambing hitam atas mahalnya beras saat ini.
Bagikan
Berita terkait
Amran Bongkar Modus Mafia Beras, Tipu-Tipu Barang Subsidi
CNBC Indonesia · 2 Agustus 2026 pukul 18.30
Mentan Ajak Pemuda Kawal Dugaan Mafia Beras, Klaim Rakyat Rugi Rp71 T
CNBC Indonesia · 2 Agustus 2026 pukul 13.15
Amran Akui Beras Premium Langka di Pasaran, Ini Penyebabnya
CNBC Indonesia · 31 Juli 2026 pukul 12.55
Mentan Ungkap Penyebab Beras Premium Langka karena Dikemas Jadi Fortifikasi
Detik.com · 31 Juli 2026 pukul 11.19