Jokowi Usul “PBB 2.0”, Nilai Lembaga Global Harus Lebih Kuat Hadapi Konflik
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Presiden Joko Widodo menyarankan reformasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) agar lebih efektif menghadapi konflik global yang kompleks dan lintas batas. Dalam Penang Peace Dialogue, Malaysia, ia mengusulkan lahirnya 'PBB 2.0' dengan sistem, proses, dan strategi baru. Jokowi menekankan bahwa dunia tidak bisa hanya mengandalkan struktur PBB lama, karena tantangan kini semakin rumit dan saling terkait. Ia juga menegaskan pentingnya perdamaian, kerja sama, dan kolaborasi untuk mencapai kemakmuran berkelanjutan.
Jokowi menyorapkan peran Asia Tenggara sebagai model kolaborasi antarperadaban di tengah dunia yang semakin multipolar. Ia menyatakan bahwa perbedaan budaya dan latar belakang bukanlah hal yang memisahkan, tetapi dapat menjadi jembatan menuju pemahaman dan kemajuan bersama. Kawasan ini, menurutnya, menunjukkan bahwa perdamaian dan kehidupan berdampingan bisa terjalin meski dengan keanekaragaman yang besar.
Selain itu, Jokowi meminta negara-negara maju tidak hanya fokus pada kepentingan internal. Ia menegaskan bahwa kekuatan suatu negara tidak hanya diukur dari ekonomi atau teknologi, tetapi juga dari tanggung jawabnya dalam menjaga perdamaian dan stabilitas global. Menurutnya, hanya melalui kerja sama dan kepercayaan dapat menciptakan dunia yang lebih damai.
Bagikan
Berita terkait
RI kecam Israel yang tolak peta jalan pemulihan Jalur Gaza
ANTARA News · 13 Agustus 2026 pukul 17.32
Di Malaysia, Jokowi Tegaskan Dunia Butuh PBB Versi Baru
JPNN.com · 6 September 2026 pukul 15.56
Jika Jokowi Sengaja Setting Budi Arie, Mahfud MD: Canggih!
Warta Ekonomi · 6 September 2026 pukul 11.00
UGM Akui Punya KHS Jokowi, tapi Tetap Tutup Rapat IPK Bersama Ijazah
Warta Ekonomi · 6 September 2026 pukul 09.16