Jakarta · Minggu, 6 September 2026Cari
WargaKonoha

Kampanye Pemilu AS 2026 Langgar Aturan OpenAI demi Iklan Politik AI

Kampanye Pemilu Amerika Serikat 2026 semakin mengandalkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendekati pemilih, meskipun perusahaan seperti OpenAI secara eksplisit melarang penggunaan alatnya untuk membuat iklan politik. Analisis Washington Post menemukan bahwa 39 kandidat kongres melaporkan pembayaran untuk langganan OpenAI, dengan dua di antaranya secara terbuka mengakui penggunaannya untuk periklanan. Anggota DPR Mike Lawler menjadi kandidat dengan pengeluaran terbesar, yakni sekitar US$3.260, sementara Komite Nasional Republik (RNC) juga menjadi salah satu pelanggan terbesar dengan pengeluaran sekitar US$9.700. Selain kandidat individu, sekitar 30 Komite Aksi Politik (PAC) dan partai juga melaporkan pembayaran ke OpenAI. AI digunakan untuk menulis email, naskah iklan, dan skrip pesan, namun banyak kampanye enggan mengakui penggunaannya secara terbuka karena tekanan politik dan kekhawatiran akan penolakan publik. Para ahli khawatir penggunaan AI yang tidak terkontrol akan mempercepat penyebaran disinformasi melalui microtargeting yang sangat personal. Studi menunjukkan bahwa pemilih cenderung tidak mempercayai pesan yang diketahui dibuat oleh AI, namun kampanye tetap beralih ke AI untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas. OpenAI menyatakan bahwa alatnya hanya boleh digunakan untuk tugas internal seperti riset dan perencanaan, namun penegakan aturan yang tidak konsisten memungkinkan kampanye untuk terus mencari celah. Eksperimen lapangan menunjukkan bahwa ChatGPT kadang-kadang menyetujui pembuatan pesan penggalangan dana yang ditargetkan, sementara kadang menolak permintaan serupa, mencerminkan ketidakkonsistenan dalam penegakan kebijakan. Para peneliti khawatir hal ini akan membuka era baru bagi disinformasi yang lebih cepat dan murah, terutama dengan kemampuan AI untuk membuat konten yang sangat personal dan spesifik bagi setiap pemilih.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait