Jakarta · Senin, 7 September 2026Cari
WargaKonoha

Ketika Budaya dan Sains Menyatu: Menyibak Fisika Paud dalam Eksperimen Etnosains Sumba di Bumi Marapu

Di Desa Wee Londa, Kabupaten Sumba Barat Daya, sebuah inovasi pendidikan anak usia dini (PAUD) sedang berkembang melalui pendekatan etnosains. Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Stella Maris Sumba, yang didanai oleh Kemenristekdikti, mengembangkan pembelajaran sains berbasis budaya lokal di Kelompok Bermain Horeb. Dengan memanfaatkan benda sehari-hari seperti Rumah Adat Sumba, gasing, kain tenun ikat, dan tempurung kelapa, anak-anak diajak untuk belajar konsep fisika seperti keseimbangan, gerak rotasi, kapilaritas, dan gesekan secara konkret dan menyenangkan.

Pendekatan ini menjawab tantangan terbatasnya fasilitas di wilayah terpencil sekaligus memanfaatkan kekayaan budaya yang sudah ada. Guru dilatih untuk melihat lingkungan sebagai laboratorium alam dan mengemasnya dalam modul digital interaktif serta katalog berbasis QR Code. Hasilnya, pemahaman guru tentang sains meningkat hingga 71%.

Inisiatif ini menegaskan bahwa laboratorium pertama bagi anak bukanlah gedung khusus, tetapi alam, budaya, dan permainan tradisional yang sudah ada di sekitar mereka. Dengan cara ini, sains menjadi lebih dekat dengan kehidupan anak, khususnya di wilayah 3T seperti Sumba.

Berita terkait