Ketika Budaya dan Sains Menyatu: Menyibak Fisika Paud dalam Eksperimen Etnosains Sumba di Bumi Marapu
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Di Desa Wee Londa, Kabupaten Sumba Barat Daya, sebuah inovasi pendidikan anak usia dini (PAUD) sedang berkembang melalui pendekatan etnosains. Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Stella Maris Sumba, yang didanai oleh Kemenristekdikti, mengembangkan pembelajaran sains berbasis budaya lokal di Kelompok Bermain Horeb. Dengan memanfaatkan benda sehari-hari seperti Rumah Adat Sumba, gasing, kain tenun ikat, dan tempurung kelapa, anak-anak diajak untuk belajar konsep fisika seperti keseimbangan, gerak rotasi, kapilaritas, dan gesekan secara konkret dan menyenangkan.
Pendekatan ini menjawab tantangan terbatasnya fasilitas di wilayah terpencil sekaligus memanfaatkan kekayaan budaya yang sudah ada. Guru dilatih untuk melihat lingkungan sebagai laboratorium alam dan mengemasnya dalam modul digital interaktif serta katalog berbasis QR Code. Hasilnya, pemahaman guru tentang sains meningkat hingga 71%.
Inisiatif ini menegaskan bahwa laboratorium pertama bagi anak bukanlah gedung khusus, tetapi alam, budaya, dan permainan tradisional yang sudah ada di sekitar mereka. Dengan cara ini, sains menjadi lebih dekat dengan kehidupan anak, khususnya di wilayah 3T seperti Sumba.
Bagikan
Berita terkait
Beauty With A Purpose, Audrey Bianca Bawa Habis Gelap Terbitlah Terang ke Miss World 2026
SINDOnews · 6 September 2026 pukul 09.01
STEM Tak Harus Mahal, Kemendikdasmen Dorong Pembelajaran 5M dari PAUD untuk Cetak Generasi Emas 2045
SINDOnews · 3 September 2026 pukul 16.00
Kemendikdasmen Luncurkan Program STEM Nasional di PAUD Kalirejo Kudus
SINDOnews · 3 September 2026 pukul 10.40
Membaca Jejak Fikih Syafi‘i dalam Manuskrip Bugis
kumparan · 2 September 2026 pukul 11.00