Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Kisah Siti, Rela Anaknya Tinggal di Asrama demi Sekolah Rakyat

Di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 8 Kabupaten Tangerang, Banten, suasana haru mewarnai kunjungan persiapan MPLS. Siti Yuliana, ibu rumah tangga asal pesisir Jakarta Utara, mengisahkan suaminya yang bekerja sebagai buruh harian lepas membuat biaya pendidikan anak menjadi sulit. Ia sempat khawatir putrinya, Putri Nurdianah, tak bisa melanjutkan sekolah. Namun, Siti akhirnya merelakan putrinya tinggal di asrama Sekolah Rakyat agar tetap bisa mengenyam pendidikan dan memperoleh fasilitas dari program tersebut. Keputusan ini disampaikan di hadapan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul), dan Wakil Mensos Agus Jabo Priyono.

Sekolah Rakyat merupakan program Kemensos yang menyediakan pendidikan gratis dengan sistem asrama 24 jam. Gus Ipul menyebut program ini gagasan langsung Presiden Prabowo yang pertama kali diselenggarakan sejak Indonesia merdeka, ditujukan bagi keluarga paling tidak mampu. Sekolah berasrama memberi pendidikan formal di pagi hari dan pendampingan karakter hingga malam, sekaligus memutus stigma bahwa pendidikan berkualitas sulit diakses masyarakat miskin. Perkembangan terlihat pada siswa seperti Misfan Nazriel Faturrahman dari Kabupaten Bekasi yang sebelumnya kesulitan membaca, kini mampu menjadi MC menggunakan bahasa Indonesia dan Inggris.

Pemerintah menerapkan skema gotong royong: pemerintah daerah menyediakan lahan, Kementerian PU membangun secara permanen dengan APBN. Tahap pertama menargetkan 100 titik selesai tahun ini, lalu tambahan 100 titik pada Oktober 2026. Setiap sekolah ditargetkan menampung hingga 2.000 siswa dari SD hingga SMA. Gubernur Banten Andra Soni mengapresiasi kebijakan ini karena tingginya angka putus sekolah di Banten, dan menilai Sekolah Rakyat menjadi oase pemutus rantai kemiskinan antargenerasi.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait