Krisis Chip Global: Kenapa Daya Tahan Baterai dan Durability Kini Jadi Standar Utama Membeli Smartphone
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Krisis chip global pada 2026 disebabkan oleh produsen memori global seperti Samsung, SK Hynix, dan Micron yang mengalihkan produksi ke High Bandwidth Memory (HBM) untuk server dan pusat data AI. Chip AI ini menyerap sekitar 70 persen produksi memori global, menyebabkan pasokan DRAM dan NAND Flash tidak mencukupi. Akibatnya, harga DRAM naik lebih dari 50 persen dan NAND Flash melonjak lebih dari 90 persen pada kuartal pertama 2026, dengan total biaya memori naik hampai 300 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Tekanan biaya ini membuat rata-rata harga smartphone global mencapai Rp10,4 juta per unit, naik 27,6 persen dari proyeksi awal. Menurut data IDC, ini adalah rekor tertinggi dalam sejarah industri smartphone. Produsen juga menurunkan spesifikasi ponsel, seperti tetap menggunakan RAM 12GB pada flagship dan mengurangi konfigurasi RAM serta penyimpanan pada ponsel kelas menengah tanpa mengubah nama model.
Di tengah kondisi ini, konsumen semakin mengutamakan daya tahan baterai, responsivitas jangka panjang, dan ketersediaan suku cadang ketimbang spesifikasi teknis. Tiga faktor ini kini menjadi standar pembelian yang lebih rasional mengingat kenaikan harga dan penurunan spesifikasi yang tidak selalu terlihat.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 4 September 2026 pukul 18.09
Krisis Chip Global Ubah Pilihan Smartphone: Kini yang Dicari Punya Daya Tahan Baterai Lama
Berita terkait
Krisis Dunia Makin Parah Bikin Harga HP-Laptop Menggila, Sampai Kapan?
CNBC Indonesia · 30 Juli 2026 pukul 16.00
Krisis Chip Diprediksi Lama, HP Indonesia Sarankan Beli Laptop-PC Sekarang
kumparan · 2 September 2026 pukul 13.39
Harga Nokia 300 Charge, HP dengan Baterai 3.700 mAh
Media Indonesia · 26 Agustus 2026 pukul 17.40
Harga iPhone 18 Pro Disinyalir Akan Lebih Terjangkau
SINDOnews · 26 Agustus 2026 pukul 08.34