Memahami Beragam Penyebab Gangguan Pertumbuhan Tinggi Badan Anak
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

PT Merck Tbk menegaskan komitmennya untuk mendukung pertumbuhan optimal anak Indonesia melalui edukasi berkelanjutan. Perusahaan ini memperkenalkan laman interaktif takartinggi.com dan buku anak 'Arka dan Mimpi ke Luar Angkasa' sebagai sarana edukasi bagi orang tua untuk memantau pertumbuhan anak secara rutin. Menurut Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting nasional mencapai 19,8%, namun gangguan pertumbuhan anak tidak hanya terkait nutrisi. Perawakan pendek dapat disebabkan oleh Growth Hormone Deficiency (GHD), Small for Gestational Age (SGA), hipotiroidisme, faktor genetik seperti Sindrom Turner, atau kondisi medis kronis. Prof. Dr. dr. Aman Bhakti Pulungan menjelaskan bahwa GHD terjadi pada sekitar 1 dari 4.000-10.000 anak, sementara SGA memiliki prevalensi panjang badan lahir <48 cm sebesar 19,8%. Kasus sebagian anak tidak dapat diidentifikasi penyebab spesifiknya, dikenal sebagai Idiopathic Short Stature (ISS). Gangguan pertumbuhan juga berdampak pada aspek psikososial anak, sehingga penting untuk mengenali gejala sejak dini dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JawaPos · 22 September 2026 pukul 16.30
Tak Bisa Instan, Melihat Dampak MBG terhadap Stunting Butuh Bertahun-tahun
Berita terkait
BGN Ancam Tutup Permanen Dapur MBG yang Tak Sesuai Standar
CNBC Indonesia · 17 September 2026 pukul 20.15
Terkuak Alasan Pasokan MBG ke 1.653 Sekolah Disetop
Detik.com · 12 September 2026 pukul 06.55
Prabowo Doa Ingin Beri Makan Seluruh Anak RI, Menkes Kabinet Bayangan: MBG Bukan Solusi Stunting, Udah Telat Banget!
Warta Ekonomi · 2 September 2026 pukul 21.01
Djarum Foundation Gelar Jalan Sehat di Kudus, Ajak Warga Cegah Stunting
kumparan · 30 Agustus 2026 pukul 13.26