Jakarta · Kamis, 10 September 2026Cari
WargaKonoha

Memahami Sifat Mukhalafatu Lilhawaditsi: Pengertian dan Pandangan Ulama Aswaja

Mukhalafatu Lilhawaditsi adalah salah satu dari dua puluh sifat wajib Allah SWT dalam ajaran Ahlussunnah wal Jama’ah (Aswaja). Secara bahasa, sifat ini berasal dari kata ‘Mukhalafah’ (berbeda) dan ‘al-Hawadits’ (sesuatu yang baru atau makhluk yang diciptakan). Secara istilah, sifat ini menegaskan bahwa Allah SWT berbeda dengan segala sesuatu yang baru, sehingga tidak ada unsur, sifat, atau keadaan makhluk yang melekat pada zat-Nya. Sifat ini termasuk dalam kategori Sifat Salbiyah, yaitu sifat yang meniadakan hal-hal yang tidak layak bagi Allah.

Dalil utama sifat ini adalah firman Allah dalam Surah Asy-Syura ayat 11: “لیست کمثلیه شایءن وهو السمیع البصیر” (‘Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia dan Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Melihat’). Ulama Aswaja, baik dari kalangan Asy–arʻye’ah maupun Maturidiyah, sepakat bahwa sifat ini menegaskan bahwa Allah tidak menyerupai makhluk-Nya dalam hal zat, sifat, maupun perbuatan. Imam al-Asy–arʻye’i menekankan bahwa Allah bukanlah jirm (tubuh) dan tidak menempati ruang, sementara Imam al-Maturidi lebih menekankan pada penggunaan akal untuk membuktikan bahwa Khaliq harus berbeda dengan makhluk agar tidak terjadi tasalsul (rantai tak berujung).

Pemahaman Mukhalafatu Lilhawaditsi memberi dampak besar bagi seorang mukmin, terutama dalam menjaga kemurnian tauhid dari pemahaman penyerupaan Tuhan dengan makhluk (tasybih). Dengan meyakini bahwa Allah berbeda dengan segala sesuatu yang baru, seorang Muslim menegaskan keesaan dan kesempurnaan Tuhan, sekaligus membedakan Sang Khaliq yang Maha Sempurna dari makhluk yang penuh kekurangan. Para ulama juga membagi pemahaman sifat ini ke dalam tiga aspek utama untuk memudahkan pemahaman, sekaligus menekankan pentingnya menghindari penafsiran yang mengarah pada penyamaaan antara Allah dan makhluk-Nya.

Berita terkait