Mendayung Merdeka di Lautan Geopolitik
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Artikel Media Indonesia membahas konsep kemerdekaan diplomasi Indonesia di tengah lautan geopolitik yang semakin kompleks. Dikutip dari pidato Mohammad Hatta 'Mendayung di Antara Dua Karang' pada 1948, konsep ini kini harus beradaptasi dengan realitas multipolar global. Indonesia tidak lagi hanya berada di antara dua blok, tetapi harus mengemudi di tengah pusaran kepentingan geopolitik yang meluas, termasuk rivalitas AS-Tiongkok, BRICS, ASEAN, hingga isu kemanangan siber dan perubahan iklim. Kemerdekaan diplomasi Indonesia didasarkan pada dua pilar: strategic self-reliance (kemandirian strategis) dan metadiplomacy (diplomasi berbasis nilai). Strategic self-reliance memastikan Indonesia tetap memegang kemudi kebijakan luar negeri tanpa tergantung pada satu poros. Metadiplomacy berfungsi sebagai kompas moral yang mengedepankan kemanusiaan, kesetaraan, dan keadilan, bukan sekadar kepentingan pragmatis jangka pendek. Strategi ini nyata dalam keanggotaan Indonesia dalam BRICS, keikutsertaan dalam proses menuju OECD, serta peran aktif dalam G-20, PBB, dan Global South. Meski ada kritik terhadap kesembuhannya, pendekatan ini justru memperlebar ruang manuver strategis. Namun, kemerdekaan diplomasi membutuhkan fondasi kuat: kedaulatan ekonomi, penguasaan teknologi, ketahanan pangan dan energi, serta kualitas SDM. Tradisi diplomasi Indonesia sejak Konferensi Asia-Afrika 1955 menunjukkan komitmen konsisten sebagai pembangun jembatan, bukan tembok, yang semakin relevan di era fragmentasi global.
Bagikan
Berita terkait
MA Tegaskan Jaksa Tak Bisa Banding dan Kasasi Putusan Bebas, Langsung Inkracht
JawaPos · 20 Agustus 2026 pukul 12.46
UMY Kirim 100 Family Kit dan 20 Tenda untuk Korban Gempa NTT
kumparan · 20 Agustus 2026 pukul 12.42
Persebaya Masih Bisa Tambah Pemain, Bernardo Tavares Tak Mau Asal Belanja
JPNN.com · 20 Agustus 2026 pukul 12.42
RUU Pemilu, Demokrat Ungkap Sudah Ada Pertemuan Para Sekjen
Detik.com · 20 Agustus 2026 pukul 12.40