Jakarta · Selasa, 15 September 2026Cari
WargaKonoha

Menjadikan Risiko Iklim sebagai Strategi Nyata dan Standar Ketahanan Bisnis di Era Global

Perubahan iklim kini tidak lagi sekadar isu lingkungan, melainkan risiko bisnis nyata yang berdampak langsung pada kinerja finansial perusahaan. Organisasi yang belum menyesuaikan diri dengan dinamika iklim diancam oleh gangguan operasional, tekanan regulasi, dan kenaikan biaya produksi. Pemahaman risiko iklim kini menjadi standar global yang penting untuk menjamin ketahanan dan keberlangsangan perusahaan jangka panjang.

Komitmen net-zero telah mencakup sebagian besar emisi global dan tertuang dalam kebijakan nasional di banyak negara. Tantangan utama bagi pemimpin bisnis adalah mengubah ambisi keberlanjutan menjadi tindakan nyata yang terukur. Hambatan internal seperti data terfragmentasi, kompleksitas pemodelan skenario, dan kesulitan menerjemahkan isu iklim ke bahasa finansial menjadi kendala utama. Solusinya adalah menggabungkan fungsi keuangan, manajemen risiko, dan keberlanjutan dalam satu forum pengambilan keputusan strategis.

Analisis risiko iklim kini menjadi kewajiban regulatif, terutama melalui pilar International Sustainability Standards Board (ISSB) dan standar IFRS S2 yang mewajibkan pengungkapan risiko dan peluang iklim. Di Indonesia, standar ini diadopsi sebagai Pernyataan Standar Pengungkapan Keberlanjutan 2 (PSPK 2) tentang Iklim, disahkan DSK IAI pada 1 Juli 2025, efektif 1 Januari 2027. Perusahaan diminta membangun tata kelola, strategi, dan metrik iklim yang terukur agar pengungkapan tidak sekadar naratif, tetapi terhubung dengan laporan keuangan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait