Menkomdigi sebut radikalisme digital disamarkan dalam bentuk bantuan
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, mengungkapkan bahwa radikalisme digital kini disamarkan dalam bentuk bantuan untuk membangun kepercayaan korban. Pola baru ini tidak lagi menggunakan kebencian atau kekerasan secara langsung, melainkan pendekatan personal seperti menawarkan bantuan pengobatan, pelunasan utang, dan janji kesejahteraan. Setelah korban percaya, mereka perlahan diarahkan ke paham ekstrem.
Data dari Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan bahwa pada Mei lalu, upaya perekrutan terhadap 112 anak melalui satu platform digital berhasil digagalkan. Meutya menilai bahwa perubahan perilaku akibat paparan konten radikal terjadi secara bertahap dan sering tidak disadari oleh keluarga, menyebabkan hubungan dengan orang tua renggang dan komunikasi berkurang.
Perkembangan teknologi seperti algoritma di ruang digital memperkuat keyakinan pengguna dengan menyajikan informasi yang sejalan dengan preferensi mereka. Akibatnya, narasi radikal membentuk ilusi di mana fakta kalah dengan emosi atau keyakinan, membuat radikalisasi semakin sulit dikenali.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 30 Juli 2026 pukul 13.00
Menkomdigi Ungkap Modus Baru Radikalisme Berkedok Bantuan yang Incar Anak-Anak
Berita terkait
Meta Uji Fitur Scam Alert Berbasis AI di WhatsApp untuk Cegah Penipuan
Media Indonesia · 16 Agustus 2026 pukul 10.36
Waspada Penipuan Undian Berhadiah BNI HUT ke-81 RI, Ini Kata Manajemen
CNBC Indonesia · 15 Agustus 2026 pukul 11.26
Marak Judol Modus Deposit Pulsa, Bareskrim Imbau Orang Tua Awasi Anak
Detik.com · 14 Agustus 2026 pukul 22.36
Gawat! Anak 15 Tahun di Denpasar Terlibat Jaringan Narkoba, BB Bikin Bergeleng
JPNN.com · 14 Agustus 2026 pukul 22.34