Motif Ekonomi di balik Petaka Karhutla Kalimantan, Demi Lahan Sawit?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Kementerian Pertanian mencatat 28.392 hotspot terdeteksi pada September 2026, dengan Kalimantan Tengah menjadi wilayah terbanyak (10.000 titik), diikuti Kalimantan Barat (3.900-4.000), Sumatera Selatan (3.500), Papua Selatan (2.400), Kalimantan Timur (1.300), dan Kalimantan Selatan (1.070). Hotspot merupakan indikator yang perlu dikonfirmasi lapangan untuk memastikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemerintah menegaskan prinsip zero burning dalam pembukaan lahan perkebunan, melarang pembakaran oleh pelaku usaha. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia (APHI) menyatakan motif ekonomi menjadi akar masalah pembakaran lahan, terutama di sektor sawit yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Masyarakat memilih pembakaran karena biaya murah, cepat, efisien, serta abu yang dapat meningkatkan pH tanah dan fungsi pupuk.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Liputan6.com · 1 Oktober 2026 pukul 20.05
Kebakaran Hutan Meluas di Kalbar dan Kalteng
SINDOnews · 1 Oktober 2026 pukul 10.55
Kemenhut Perkuat Respons Lapangan dan Perlindungan Satwa Liar
JPNN.com · 30 September 2026 pukul 19.09
Menhut Raja Juli Sebut Kesadaran Masyarakat Jadi Kunci Cegah Karhutla
Detik.com · 30 September 2026 pukul 13.51
Polri Tetapkan 196 Orang Tersangka Karhutla
Berita terkait
Menhut Sebut Titik Hotspot Karhutla Alami Penurunan
CNN Indonesia · 25 September 2026 pukul 01.00
Luas Lahan Terbakar di Kalbar Tembus 48.536 Ha, Masih Ada 19 Hotspot
CNBC Indonesia · 15 September 2026 pukul 19.50
Bos IKN-Menhut Cs Ngumpul Bahas Perintah Prabowo Lindungi IKN
CNBC Indonesia · 15 September 2026 pukul 12.20
Hotspot Karhutla Nasional Menurun, Kalteng Masih Tertinggi
JawaPos · 13 September 2026 pukul 13.00