Jakarta · Sabtu, 29 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Muka Dua Para Penguasa: Saat Hukum Cuma Jadi Alat Amankan Jabatan

Artikel mengkaji fenomena politik 'muka dua' di mana para penguasa menggunakan hukum bukan sebagai alat keadilan, tetapi sebagai instrumen untuk memuluskan dan mengamankan kekuasaan. Ditulis oleh Niccolo Machiavelli dalam buku 'Il Principe' (1513), konsep ini menegaskan bahwa keberhasilan seorang pemimpin diukur dari efektivitasnya menjaga kekuasaan, bukan dari moralitas tindakannya. Machiavelli menggambarkan bahwa penguasa harus bisa berperan sebagai 'rubah' yang licik namun cerdas, maupun 'singa' yang menggunakan kekuatan untuk menakut-nakuti lawan. Dalam konteks politik Indonesia, hukum sering diterapkan secara selektif, aturan diubah cepat untuk kepentingan politik, dan hukum menjadi topeng untuk menciptakan kesan sah pada manuver yang etisnya mencurigakan.

Artikel menyoroti tiga pola utama politik muka dua: pemanfaatan hukum selektif terhadap lawan politik, revisi aturan taktis untuk melindungi kepentingan kelompok tertentu, dan pencitraan hukum untuk menjustrikan aksi yang sebenarnya bertentangan dengan etika. Machiavelli menegaskan bahwa rakyat lebih baik ditakuti daripada dicintai karena cinta mudah pudar, sementara rasa takut dan kendali atas aturan lebih efektif menjaga kekuasaan. Ini menjelaskan mengapa kritik publik sering diabaikan selama instrumen hukum dan aparat masih berada di bawah kendali penguasa.

Inti pesan artikel adalah pentingnya masyarakat tidak hanya melihat hukum di atas kertas, tetapi mulai mempertanyakan siapa yang diuntungkan di balik pembuatan kebijakan. Selama masyarakat mudah terkecoh oleh retorika dan klaim 'sesuai prosedur', hukum di Indonesia akan terus menjadi alat untuk mengamankan jabatan elit politik, bukan sarana keadilan bagi seluruh rakyat.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait