Nahdiyin Ingin Pemimpin PBNU Mendatang Independen dari Kekuasaan dan Responsif Gender
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU), tokoh dan aktivis NU menekankan pentingnya melahirkan kepemimpinan PBNU yang independen, berintegritas, dan terbebas dari pengaruh politik praktis. Wakil Katib Syuriyah PWNU DKI Jakarta, Taufik Damas, menyatakan bahwa kepemimpinan baru harus menjaga jarak ideal dari lingkaran kekuasaan agar dapat tetap beradvokasi secara optimal bagi masyarakat akar rumput seperti petani, nelayan, dan pedagang kecil. Menurutnya, NU tidak boleh menjadi juru bicara presiden, dan kedekatan dengan penguasa harus dibatasi. Survei Alvara Research Center akhir 2025 menunjukkan bahwa potensi nahdiyin mencapai 140 juta jiwa, sehingga angka besar ini tidak boleh dijadikan alat tawar untuk meraih jabatan pemerintahan. Taufik juga mendukung larangan rangkap jabatan bagi para pengurus harian PBNU.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
SINDOnews · 12 Agustus 2026 pukul 17.53
Jelang Muktamar ke-35 NU, Desakan Kepemimpinan Independen dan Berintegritas Menguat
ANTARA News · 10 Agustus 2026 pukul 20.00
Presiden dijadwalkan buka Muktamar ke-35 NU di Jombang
Berita terkait
DPS Muktamar ke-35 NU Terbit, Gus Salam Ingatkan soal Legalitas
JPNN.com · 4 Agustus 2026 pukul 13.36
Semestinya NU Pilih Ketum Lewat AHWA, Pemilihan Langsung Berpotensi Timbulkan Friksi
JPNN.com · 16 Agustus 2026 pukul 19.19
Ada yang Resah Belum Diundang ke Muktamar NU, tetapi Sudah Diminta Nama AHWA
JPNN.com · 14 Agustus 2026 pukul 07.11
Maju di Muktamar NU, Gus Rozin Keliling Daerah Menawarkan Konsep Poros Tengah
JPNN.com · 13 Agustus 2026 pukul 09.22