Negara Kaya Minyak Krisis Energi: Listrik dan BBM Tak Ada-Warga Demo
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Libya sedang mengalami krisis energi parah selama lebih dari enam minggu yang meliputi kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik, hingga krisis air bersih. Di ibu kota Tripoli, warga harus menunggu dua hingga tiga hari untuk mengisi bahan bakar, sementara harga solar di pasar gelap mencapai 8 dinar Libya (sekitar Rp22.302 per liter), lebih dari 50 kali lipat dari harga subsidi resmi. Pemadaman listrik yang berlangsung lebai lebih dari 10 jam sehari menghambat sektor bisnis, termasuk menyebabkan kerusakan barang-barang di supermarket akibat mesin pendingin yang mati. Krisis ini juga mempengaruhi sistem air setelah operasi Great Man-Made River, jaringan pipa akuaduk raksasa, terganggu, sehingga sejumlah warga harus menutup usaha karena kekeringan. Laporan menunjukkan bahwa krisis ini telah memicu demonstrasi berujung kekerasan, dengan warga memblokir jalan dan membarikade gedung pemerintah. Ketua GECOL menjanjikan krisis listrik akan berakhir dalam dua minggu, sementara Brega Petroleum menyatakan bahwa gangguan global, termasuk di Selat Hormuz, menyebabkan penundaan kiriman bahan bakar. Meskipun Libya memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Afrika, infrastruktur terbatas membuat negara ini bergantung pada impor produk olahan. Pakar energi menilai bahwa krisis ini mencerminkan masalah pengelolaan sistem energi secara keseluruhan, bukan sekadar pembangkitan listrik.
Bagikan
Berita terkait
Raja Minyak Afrika Lumpuh Dihantam Krisis: Listrik Padam, BBM Langka
Detik.com · 31 Agustus 2026 pukul 11.40
Negara Kaya Minyak Dihantam Krisis: Antre BBM 6 Jam dan Listrik Padam
Liputan6.com · 31 Agustus 2026 pukul 13.00
Geger Pemadaman Bergilir, Listrik Padam hingga 24 Jam
CNBC Indonesia · 2 September 2026 pukul 19.50
Negara "Raja Minyak" Krisis: Negara Gelap Gulita-Bensin Tak Ada
CNBC Indonesia · 28 Agustus 2026 pukul 21.50