Jakarta · Kamis, 3 September 2026Cari
WargaKonoha

Negara Kaya Minyak Krisis Energi: Listrik dan BBM Tak Ada-Warga Demo

Libya sedang mengalami krisis energi parah selama lebih dari enam minggu yang meliputi kelangkaan bahan bakar, pemadaman listrik, hingga krisis air bersih. Di ibu kota Tripoli, warga harus menunggu dua hingga tiga hari untuk mengisi bahan bakar, sementara harga solar di pasar gelap mencapai 8 dinar Libya (sekitar Rp22.302 per liter), lebih dari 50 kali lipat dari harga subsidi resmi. Pemadaman listrik yang berlangsung lebai lebih dari 10 jam sehari menghambat sektor bisnis, termasuk menyebabkan kerusakan barang-barang di supermarket akibat mesin pendingin yang mati. Krisis ini juga mempengaruhi sistem air setelah operasi Great Man-Made River, jaringan pipa akuaduk raksasa, terganggu, sehingga sejumlah warga harus menutup usaha karena kekeringan. Laporan menunjukkan bahwa krisis ini telah memicu demonstrasi berujung kekerasan, dengan warga memblokir jalan dan membarikade gedung pemerintah. Ketua GECOL menjanjikan krisis listrik akan berakhir dalam dua minggu, sementara Brega Petroleum menyatakan bahwa gangguan global, termasuk di Selat Hormuz, menyebabkan penundaan kiriman bahan bakar. Meskipun Libya memiliki cadangan minyak mentah terbesar di Afrika, infrastruktur terbatas membuat negara ini bergantung pada impor produk olahan. Pakar energi menilai bahwa krisis ini mencerminkan masalah pengelolaan sistem energi secara keseluruhan, bukan sekadar pembangkitan listrik.

Berita terkait