Negara "Raja Minyak" Krisis: Negara Gelap Gulita-Bensin Tak Ada
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Libya, negara dengan cadangan minyak terbesar di Afrika (sekitar 48 miliar barel) dan kapasitas produksi 1,5 juta barel per hari, kini dilanda krisis energi parah akibat pemadaman listrik berkepanjangan dan kelangkaan BBM. Warga harus antre berjam-jam di stasiun bensin, bahkan sampai empat kilometer, sementara suhu udara mencapai 50 derajat Celsius. Toko-toko tutup, es batu rusak, dan bisnis tertutup karena listrik padam. Pemerintah terpaksa mengimpor BBM senilai US$7,8 miliar pada 2025 karena hanya memproduksi sepertiga kebutuhan domestik. Para ahli dan PBB menyalahkan korupsi, tata kelola lemah, dan kurangnya pemeliharaan pembangkit listrik selama bertahun-tahun. Peneliti menuduh penyelundupan minyak dan penyalahgunaan anggaran energi memperparah krisis. Utusan PBB menyebut fragmentasi institusional dan pengalihan sumber daya publik sebagai akar masalah. Baru-baru ini, reservoir bensin 4,5 juta liter di Zawiya diserang pesawat tak berawak, menambah ketegangan di wilayah konflik bersenjata.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
Warta Ekonomi · 28 Agustus 2026 pukul 16.25
Trump Sebut Selat Hormuz Terbuka, AS Klaim Pegang Kendali dan Blokade Iran
Berita terkait
6 Bulan Perang AS-Iran, Negara Konflik Kuasai 43% Pasokan Minyak Dunia di 2026
SINDOnews · 26 Agustus 2026 pukul 07.58
Ekonomi Dunia Bisa Gawat! AS Mau Bikin Ulah Lagi, Iran Balik Mengancam
CNBC Indonesia · 25 Agustus 2026 pukul 06.15
Iran Ancam Hentikan Seluruh Ekspor Minyak di Timur Tengah, AS Justru Luncurkan D-Day Ekonomi
SINDOnews · 24 Agustus 2026 pukul 16.44
Pengaruh Iran di Selat Hormuz Melemah, Sampai Kapan Teheran Bertahan?
CNBC Indonesia · 19 Agustus 2026 pukul 21.30