Jakarta · Selasa, 22 September 2026Cari
WargaKonoha

Pesan dari Gontor

Seorang ayah yang mengantar anaknya ke Pondok Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur, menggambarkan pengalamannya saat pertama kali mengunjungi pesantren tersebut pada pertengahan 2023. Di pintu masuk, ia disambut oleh tulisan besar 'Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?' yang menjadi gaya komunikasi Gontor untuk mendorong refleksi diri. Ia menyadari bahwa pendidikan di Gontor tidak hanya melalui pengajaran ustaz, tetapi juga melalui simbol, tulisan, dan suasana sekitar yang konsisten setiap hari. Tulisan-tulisan di berbagai sudut pondok mengandung pesan tentang ilmu, keikhlasan, kedisiplinan, dan pengabdian, yang menjadi bagian dari proses pembentukan karakter santri. Sistem komunikasi ini membuat Gontor tampak hidup dan terus 'berbicara' kepada para santrinya melalui lingkungan fisik dan budaya yang dikelola secara sistematis. Beberapa hari yang lalu, Gontor menjadi sorotan publik ketika Presiden Prabowo Subianto menghadiri Resepsi Kesyukuran 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Acara tersebut dihadiri lebih dari 8.000 tamu undangan, termasuk pimpinan lembaga negara, menteri, duta besar, pimpinan TNI dan Polri, hingga keluarga besar Gontor. Salah satu momen paling dibicarakan adalah sambutan Pimpinan Gontor, KH Hasan Abdullah Sahal, yang dinilai 'sangat modern' dan 'efisien' karena tidak menggunakan sapaan formal panjang. Ia juga diketahui menyampaikan kritik langsung kepada pemerintah di hadapan ribuan tamu, sesuatu yang dianggap berani. Hal ini dijelaskan sebagai akibat dari posisi Gontor yang relatif independen dan tidak terikat erat dengan struktur pemerintahan. Gontor juga menonjolkan gaya komunikasi yang berbeda melalui pertanyaan retoris 'Ke Gontor, Apa yang Kau Cari?' yang kembali muncul dalam acara tersebut. Menurut penulis, ini mencerminkan filosofi Gontor yang tidak hanya memberi instruksi, tetapi mendorong orang untuk bertanya pada dirinya sendiri. Gestur Kiai Hasan saat bersalaman dengan Presiden juga menjadi sorotan, di mana sikapnya yang tidak menunduk berlebihan diartikan sebagai simbol bahwa menghormati seseorang tidak berarti merendahkan diri. Dengan pendekatan komunikasi yang reflektif dan simbolis, Gontor tetap konsisten dalam menyampaikan nilai-nilai pendidikannya, baik kepada para santri maupun kepada publik yang lebih luas.

Berita terkait