Jakarta · Selasa, 15 September 2026Cari
WargaKonoha

PM Spanyol Pedro Sanchez Bantah Diperas Maroko Soal Krisis Migran Ceuta

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez membantah tuduhan bahwa ia menjadi korban pemerasan oleh pemerintah Maroko terkait krisis migran di Ceuta. Tuduhan ini muncul setelah lebih dari 70.000 migran asal Maroka menerobos masuk ke Ceuta pada akhir Juli. Partai oposisi kanan, Partai Populer, menduga pemerintah Maroko menggunakan data hasil peretasan ponsel Sanchez untuk menekannya. Sanchez menegaskan tidak ada bukti kuat bahwa Maroko bertanggung jawab atas insiden tersebut, meskipun ia siap bertindak tegas jika terbukti sebaliknya. Ia menilai laporan palsu tersebut lebih cocok untuk serial Netflix ketimbang fakta politik.

Sebagian besar migran yang masuk telah kembali ke Maroko, namun ribuan orang lainnya bertahan di Ceuta, memicu demonstrasi hampir setiap hari dari warga lokal dan potensi kekerasan. Pemerintah Spanyol masih melakukan proses verifikasi dan identifikasi terhadap para migran untuk menentukan kelayakan hak suaka. Proses ini terhambat karena banyaknya anak-anak yang tidak didampingi orang tua yang tidak dapat langsung diguguskan sesuai prosedur.

Situasi ini memicu ketegangan dalam Uni Eropa, dengan Spanyol mengancam tindakan balasan terhadap Italia jika tidak mencabut pembatasan perbatasan. Komisioner UE Magnus Brunner menyatakan penyelundup manusia bertanggung jawab atas kematian puluhan migran. Pemerintah Spanyol juga membentuk pusat respons terpadu untuk menangani krisis ini, sementara Wali Kota Ceuta melaporkan jumlah migran mencapai 11.000 orang, jauh lebih tinggi dari klaim pemerintah pusat.

Berita terkait