Jakarta · Selasa, 18 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Pomalaa, Hidup di Tengah Ekspansi Industri Nikel

Ekspansi industri dan pertambangan nikel di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, seperti proyek Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan PT Vale Indonesia, berdampak serius terhadap lingkungan dan mata pencaharian warga. Laporan organisasi Satya Bumi mencatat pembukaan lahan mencapai 2.098,14 hektare sepanjang 2022–2025, termasuk 77,81 hektare di kawasan hutan lindung. Dampaknya, sedimentasi lumpur merah di Sungai Oko-Oko merusak lahan pertanian dan menurunkan hasil panen padi warga secara drastis, serta memicu banjir lumpur hingga 50 sentimeter.

Selain sektor pertanian, aktivitas tambang mengganggu nelayan pesisir Desa Hakatutobu yang harus melaut hingga 1–2 mil dengan pembengkakan biaya operasional dari Rp30 ribu menjadi Rp300 ribu. Warga juga mengalami sengketa tanah tanpa kejelasan kompensasi serta tekanan sosial saat berunjuk rasa. Sementara itu, fasilitas keamanan di sekitar kawasan industri terus diperkuat, salah satunya melalui hibah lahan 10 hektare dari IPIP untuk pembangunan Markas Komando Brimob.

Berita terkait