Pomalaa, Hidup di Tengah Ekspansi Industri Nikel
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Ekspansi industri dan pertambangan nikel di Pomalaa, Kabupaten Kolaka, Sulawesi Tenggara, seperti proyek Indonesia Pomalaa Industrial Park (IPIP) dan PT Vale Indonesia, berdampak serius terhadap lingkungan dan mata pencaharian warga. Laporan organisasi Satya Bumi mencatat pembukaan lahan mencapai 2.098,14 hektare sepanjang 2022–2025, termasuk 77,81 hektare di kawasan hutan lindung. Dampaknya, sedimentasi lumpur merah di Sungai Oko-Oko merusak lahan pertanian dan menurunkan hasil panen padi warga secara drastis, serta memicu banjir lumpur hingga 50 sentimeter.
Selain sektor pertanian, aktivitas tambang mengganggu nelayan pesisir Desa Hakatutobu yang harus melaut hingga 1–2 mil dengan pembengkakan biaya operasional dari Rp30 ribu menjadi Rp300 ribu. Warga juga mengalami sengketa tanah tanpa kejelasan kompensasi serta tekanan sosial saat berunjuk rasa. Sementara itu, fasilitas keamanan di sekitar kawasan industri terus diperkuat, salah satunya melalui hibah lahan 10 hektare dari IPIP untuk pembangunan Markas Komando Brimob.
Bagikan
Berita terkait
PT Vale Diduga Langgar Komitmen HAM, TRK Desak Holding Jatuhkan Sanksi Tegas
JPNN.com · 30 Juli 2026 pukul 00.55
Agrinas Buka Suara Terkait Peristiwa di Kebun Batang
SINDOnews · 17 Agustus 2026 pukul 23.10
Momen Menteri Trenggono Upacara HUT RI di Kampung Nelayan Merah Putih Sorue Jaya
kumparan · 17 Agustus 2026 pukul 20.00
Agrinas Palma Buka Suara soal Bentrokan di Riau
Detik.com · 17 Agustus 2026 pukul 16.22