Jakarta · Senin, 31 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Prancis di Ujung Krisis: Utang Bengkak-Sebut Kondisi 2008

Prancis kembali menjadi sorotan pasar keuangan setelah imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun mencapai 4,13%, level tertinggi sejak krisis 2008. Tekanan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal negara yang semakin memburuk. Defisit anggaran Prancis mencapai 5,1% dari PDB pada 2025, jauh melampaui batas 3% Uni Eropa, sementara rasio utang pemerintah sudah melebihi 115% PDB. IMF memproyeksikan utang akan mencapai 118,5% pada 2026 dan melewati 120% pada 2027.

Pertumbuhan ekonomi Prancis yang lemah memperparah situasi. Perekonomian mengalami kontraksi 0,2% secara kuartalan pada kuartal pertama 2026 dan stagnan pada kuartal kedua, membatasi ruang bagi pemerintah untuk memperbaiki rasio utang melalui pertumbuhan. Para ahli seperti John Stopford dari Ninety One menilai kondisi ini bukan sekadar masalah Prancis, tetapi contoh nyata dari kesulitan keuangan negara-negara majir setelah pandemi, perang, dan krisis energi. Theophile Legrand dari Natixis CIB menambahkan bahwa pasar menuntun bukti kredibilitas jalur anggaran 2027 untuk menstabilkan utang publik.

Ketidakpastian politik memperburuk krisis. Parlemen Prancis mengalami kebuntuan anggaran berulang, mosi tidak percaya, hingga pergantian pemerintahan. Elevasi pemilihan presiden 2027 dengan kemungkinan kandidat seperti Marine Le Pen dari sayap kanan semakin menambah ketidakpastian pasar. Para investor seperti April LaRusse dari Insight Investment menyatakan minimnya tanda penyesuaian fiskal yang signifikan dari pemerintah, sementara Stopford memperkirakan kemungkinan munculnya krisis, meski tidak yakin kapan terjadi.

Berita terkait