Jakarta · Jumat, 28 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Prinsip Less but More dalam Pembelajaran Mendalam

Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti menekankan pentingnya menerapkan prinsip 'less but more' dalam pembelajaran mendalam (deep learning). Menurutnya, pembelajaran tidak harus fokus pada banyaknya materi yang diajarkan, tetapi lebih pada kedalaman pemahaman setiap topik. Dengan pendekatan ini, guru dapat mengaitkan antar-materi bahkan antar-mata pelajaran, sehingga menciptakan pembelajaran lintas disiplin ilmu (interdisciplinary learning). Prinsip ini juga mendorong guru untuk melibatkan murid secara penuh, memaknai pengalaman belajar, dan menghindari pembelajaran permukaan (surface learning) yang hanya mengandalkan hafalan.

Abdul Mu'ti menjelaskan bahwa paradigma pembelajaran lama yang menekankan pada penyelesaian materi sesuai kurikulum perlu diganti dengan pendekatan yang lebih bermakna dan relevan dengan kehidupan nyata. Pembelajaran mendalam bertujuan aga guru dapat mengubah cara berpikir dan perilaku anak, serta memastikan murid belajar dengan penuh kesadaran (mindful learning), rasa ingin tahu (curiosity), dan rasa ingin tahu (meaningful learning). Selain itu, proses belajar mengajar harus dilakukan dengan menggembirakan (joyful learning), di mana guru memuliakan anak-anak agar merasa aman dan nyaman.

Dalam implementasinya, guru perlu melakukan refleksi di akhir setiap pembelajaran untuk membandingkan pola pembelajaran lama dengan model pembelajaran mendalam. Refleksi ini menjadi bagian penting dari tiga siklus utama proses belajar mengajar, yaitu memahami, mengaplikasikan, dan merefleksi. Guru juga diharapkan menjadi model teladuh bagi murid, agen perubahan, dan penentu kesuksesan hidup murid. Karena peran guru sangat penting, pemerintah menempatkan program peningkatan mutu dan kesejahteraan guru sebagai prioritas, dengan keyakinan bahwa dengan guru hebat, Indonesia kuat.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait