Raja Tekstil Dunia Jadi 'Korban' Perang Iran, Terancam Bangkrut Massal
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Industri garmen Bangladesh, yang menjadi eksportir pakaian terbesar kedua di dunia setelah China, semakin tertekan akibat kenaikan harga energi global yang dipicu konflik di Timur Tengah. Serangan AS dan Israel terhadap Iran pada Februari 2026 lalu menyebabkan harga bahan bakar di Bangladesh melonjak 17,4%, sekaligus meningkatkan biaya pengiriman laut. Karena sebagian besar pasokan listrik negara bergantung pada gas alam, bahan bakar tungku, dan solar, kenaikan biaya energi ini berdampak langsung pada operasional pabrik. Survei terhadap 134 pabrik pakaian rajut menunjukkan 55% pelaku mengalami pembatalan atau pengurangan pesanan sejak akhir Agustus 2026, sementara 78% pabrik menghentikan produksi sebagian. Para produsen diturunkan margin tipis dan harus menanggung biaya ekstra akibat penggunaan pengiriman udara dan diskon khusus untuk menutupi keterlambatan.
Bagikan
Berita terkait
Di Sidang Majelis Umum PBB, Antonio Guterres Desak Konflik Timur Tengah segera Dihentikan
JPNN.com · 23 September 2026 pukul 11.11
Trump Dukung Larangan Ekspor Solar AS
Liputan6.com · 23 September 2026 pukul 10.00
Tekstil RI Dapat Angin Segar, Prabowo Siapkan Sederet Insentif Ini
CNBC Indonesia · 23 September 2026 pukul 07.25
Rosan Ungkap Perkembangan Wacana BUMN Tekstil
CNN Indonesia · 22 September 2026 pukul 20.16