Ramai-Ramai Merek Mewah Mendadak Tutup Toko di China, Ada Apa?
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pasar barang mewah China mengalami tekanan berat akibat melemahnya daya beli konsumen dan kondisi pasar properti yang memburuk. Merek internasional seperti Louis Vuitton, Gucci, Balenciaga, dan Rolex dilaporkan menutup gerai di kota-kota besar China karena penurunan permintaan yang signifikan. Butik-butik mewah yang sebelumnya ramai kini semakin sepi, mencerminkan perubahan perilaku belanja konsumen kelas atas.
Survei menunjukkan bahwa individu berpenghasilan tinggi berencana memangkas pembelian barang mewah hingga 10% pada tahun ini. Penurunan ini dikaitkan dengan pengawasan pajak yang lebih ketat, gejolak pasar keuangan, dan pelemahan sektor properti jangka panjang. Kelas menengah atas yang terbebani cicilan rumah, kredit mobil, dan biaya pendidikan terpaksa menjual aset mewah mereka, sekaligus menyaksikan penurunan nilai barang seperti jam tangan Rolex dan tas Louis Vuitton hingga ribuan dolar.
Tekanan ekonomi juga mempengaruhi kelas menengah yang menghadapi peningkatan pengangguran, penurunan tabungan, dan meningkatnya utang. Pusat perbelanjaan dan kawasan bisnis dilaporkan berubah menjadi "kota mati". Pemerintah China mencoba mendorong konsumsi melalui subsidi pembayaran kembali kartu kredit, namun langkah ini dianggap hanya memberikan dorongan jangka pendek. Penurunan harga properti dan utang yang masih tinggi membuat banyak keluarga kesulitan mempertahankan tingkat konsumsi, bahkan di sektor non-mewah seperti kopi, restoran, dan pasar bahan makanan segar.
Bagikan
Berita terkait
Penjualan Barang Mewah Global Merosot 10% di China
Liputan6.com · 24 Agustus 2026 pukul 20.40
8 Tips Mengatasi Kekenyangan
Media Indonesia · 17 September 2026 pukul 22.30
Pengembangan Kawasan Menguatkan Aspek Keberlanjutan
Media Indonesia · 17 September 2026 pukul 21.43
Byeon Woo-seok Beli Apartemen Mewah Hannam The Hill Seharga Rp145 Miliar Tunai
Media Indonesia · 17 September 2026 pukul 20.56