Ratusan Warga Semarang Ingin Masuk Desil 1-4 demi Bansos, Antropolog Singgung Kemiskinan Kultural
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Ratusan warga di Semarang mengusulkan agar data pencatatan kembali dilakukan agar mereka masuk ke dalam kelompok desil 1 hingga 4 demi mendapatkan bantuan sosial (bansos). Fenomena ini dianggap perlu dikaji secara sosial dan budaya, karena tidak semua yang mengincar bansos benar-benar berada dalam kondisi miskin secara struktural.
Antropolog Universitas Negeri Semarang (Unnes), Prof. Nugroho Trisnu Brata, menjelaskan bahwa kondisi ini berkaitan dengan konsep kemiskinan kultural. Kemiskinan struktural muncul akibat kebijakan negara yang tidak tepat, sementara kemiskinan kultural dipengaruhi oleh nilai-nilai dan budaya yang menghambat masyarakat keluar dari kemiskinan. Ia menekankan bahwa banyak masyarakat tidak merasa malu ketika menggolongkan diri sebagai miskin hanya untuk mendapatkan bantuan pemerintah.
Menurut Trisnu, keinginan mendapatkan bansos dengan mengklasifikasikan diri sebagai orang miskin mencerminkan adanya mentalitas kemiskinan. Banyak pihak yang tidak benar-benar miskin namun tetap ingin masuk dalam kategori miskin ekstrem, miskin, ambang kemiskinan, atau rentan miskin. Hal ini menunjukkan adanya pengaruh budaya kemiskinan dalam berpikir dan bertindak masyarakat.
Bagikan
Berita terkait
Warga Semarang Ramai-Ramai Ingin Masuk Desil 1–4 Agar Dapat Bansos
JPNN.com · 16 September 2026 pukul 11.01
Berharap Dapat Bansos, Warga Semarang Ramai-ramai Ingin Masuk Desil 1-4
JPNN.com · 16 September 2026 pukul 10.02
Pelemahan Sistemik DTSEN Disorot, Ekonom: Desil Harus Jadi Alat Penyaring Awal Bukan Vonis
SINDOnews · 14 September 2026 pukul 09.16
Ekonom Celios Usulkan Pemerintah Hentikan Bansos Sembako yang Tidak Efektif
JawaPos · 13 September 2026 pukul 15.00