Pelemahan Sistemik DTSEN Disorot, Ekonom: Desil Harus Jadi Alat Penyaring Awal Bukan Vonis
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Polemik pencabutan bansos pada kelompok rentan yang salah diklasifikasikan sebagai desil ekonomi mampu disampaikan dari kelemahan model DTSEN. DTSEN yang menggabungkan DTKS, P3KE, dan Regsosek menggunakan metode Proxy Means Test yang hanya memperkirakan peringkat kesejahteraan relatif, bukan pendapatan riil rumah tangga. Akibatnya, banyak keluarga miskin terlewat dari program seperti PKH, BPNT, dan PIP.
Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari CORE menjelaskan bahwa indikator aset tidak bergerak secepat kondisi ekonomi. Rumah warisan tetap tercatat sebagai aset meski pemiliknya kehilangan pekerjaan, sementara posisi desil bisa berubah hanya karena fluktuasi daya beli warga lain. Data Susenas 2025 memperlihatkan tingginya angka salah sasaran dan warga miskin yang terlewat dari program.
Rentang pengeluaran antar-desil menengah terlalu tipis untuk keputusan fatal, sementara desil 10 mencakup rentang luas hingga kelas menengah. Dampak exclusion error lebih berbahaya karena memutus akses pangan dan pendidikan, terutama bagi pekerja informal tanpa slip gaji yang kesulitan membuktikan kemiskinan.
Bagikan
Diberitakan juga oleh
JawaPos · 13 September 2026 pukul 15.00
Ekonom Celios Usulkan Pemerintah Hentikan Bansos Sembako yang Tidak Efektif
Detik.com · 12 September 2026 pukul 15.32
Penerima Bansos Bertambah 4,3 Juta Keluarga
Berita terkait
BPS Pertimbangkan Pakai Data Pajak untuk Ukur Pendapatan Penerima Bansos
SINDOnews · 11 September 2026 pukul 23.25
Desil Bukan Satu-satunya Kriteria dalam Penyaluran Bansos
Detik.com · 12 September 2026 pukul 07.25
4,3 Juta KPM Baru Masuk Daftar Penerima Bansos
Media Indonesia · 11 September 2026 pukul 23.10
Kemensos: Pemutakhiran DTSEN Bagian dari Penyempurnaan Penentuan Desil
kumparan · 11 September 2026 pukul 22.00