Jakarta · Senin, 14 September 2026Cari
WargaKonoha

Pelemahan Sistemik DTSEN Disorot, Ekonom: Desil Harus Jadi Alat Penyaring Awal Bukan Vonis

Polemik pencabutan bansos pada kelompok rentan yang salah diklasifikasikan sebagai desil ekonomi mampu disampaikan dari kelemahan model DTSEN. DTSEN yang menggabungkan DTKS, P3KE, dan Regsosek menggunakan metode Proxy Means Test yang hanya memperkirakan peringkat kesejahteraan relatif, bukan pendapatan riil rumah tangga. Akibatnya, banyak keluarga miskin terlewat dari program seperti PKH, BPNT, dan PIP.

Ekonom Yusuf Rendy Manilet dari CORE menjelaskan bahwa indikator aset tidak bergerak secepat kondisi ekonomi. Rumah warisan tetap tercatat sebagai aset meski pemiliknya kehilangan pekerjaan, sementara posisi desil bisa berubah hanya karena fluktuasi daya beli warga lain. Data Susenas 2025 memperlihatkan tingginya angka salah sasaran dan warga miskin yang terlewat dari program.

Rentang pengeluaran antar-desil menengah terlalu tipis untuk keputusan fatal, sementara desil 10 mencakup rentang luas hingga kelas menengah. Dampak exclusion error lebih berbahaya karena memutus akses pangan dan pendidikan, terutama bagi pekerja informal tanpa slip gaji yang kesulitan membuktikan kemiskinan.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait