Jakarta · Selasa, 1 September 2026Cari
WargaKonoha

'Rival' Eropa Trump Semprot Rusia-Israel, Tuding Tebar Hoax Maut

Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez menuduh Israel dan Rusia menyebarkan disinformasi terkait krisis migran di Ceuta pada akhir Juli 2026, berdasarkan temuan Layanan Tindakan Eksternal Eropa (EEAS). Menurutnya, rumor dan hoaks menyebar luas di jejaring sosial yang terkait dengan kedua negara serta kelompok kanan ultra internasional setelah sekitar 70.000 orang menyeberang dari Maroko ke wilayah kantong Spanyol di Afrika Utara. Sanchez menegaskan tidak ada bukti keterlibatan pemerintah Maroko dalam gelombang ini, dan menolak tudingan sebaliknya.

Sanchez menjelaskan kedua negara sengaja memanfaatkan krisis untuk mengkritik pemerintah Spanyol, terutama mengingat pertentangan Madrid terhadap kebijakan Israel di Palestina dan perang di Ukraina. Pemerintah Spanyol berjanji mengucurkan tambahan dana bantuan senilai 168 juta euro (setara US$195 juta atau Rp3,45 triliun) khusus untuk Ceuta. Ia juga mengungkapkan kelompok perdagangan manusia turut menyebarkan hoaks daring mengklaim imigran yang masuk dengan berenang tidak bisa dideportasi.

Di sisi lain, warga Ceuta yang berpenduduk 80.000 jiwa dan wilayahnya hanya 18 km persegi terus menggelar demonstrasi terkait masalah keamanan dan kebersihan akibat lonjakan migran. Pemerintah kiri memperkirakan 3.500 hingga 7.000 migran masih bertahan di sana, sementara politisi kanan menyebut jumlahnya mencapai 10.000. Sanchez dikenal lantang mengkritik pendudukan Israel dan serangan AS terhadap Iran, sehingga memicu ketegangan dengan Presiden AS Donald Trump yang sempat ancam putuskan perdagangan dengan Spanyol.

Berita terkait