Jakarta · Sabtu, 22 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Saat Rupiah Ambruk dan Inflasi Melonjak, 14 Menteri Ekonomi RI Mundur

Pada 20 Mei 1998, 14 menteri ekonomi Kabinet Pembangunan VII menyatakan pengunduran diri secara kolektif dari kabinet yang baru diresmikan Presiden Soeharto empat hari sebelumnya. Keputusan ini diambil setelah rapat di Gedung Bappenas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri Ginandjar Kartasasmita. Para menteri menilai krisis ekonomi yang melanda Indonesia sudah mencapai titik kritis, dengan rupiah terpuruk, inflasi melonjak, dan sektor perbankan dalam tekanan berat. Mereka menyampaikan bahwa pembentukan kabinet baru tidak akan menyelesaikan akar masalah krisis yang sedang terjadi.

Dalam pernyataan bersama, 14 menteri tersebut menegaskan bahwa Indonesia berada di ambang kolaps jika krisis tidak ditangani dengan serius. Hanya Menteri Negara Agraria Ary Mardjono yang menentang keputusan ini. Para menteri yang mundur termasuk tokoh-tokoh kunci seperti Akbar Tandjung, Kuntoro Mangkusubroto, dan Theo L. Sambuaga. Langkah ini dianggap sebagai pukulan besar bagi legitimasi Soeharto, baik secara administratif maupun simbolik.

Dampaknya signifikan. Sejumlah sejarah menuliskan bahwa langkah ini membuat posisi Soeharto semakin rapuh. Wakil Presiden BJ Habibie sempat berusaha meyakinkan para menteri untuk tetap bertahan, namun keputusan sudah bulat. Akhirnya, pada 21 Mei 1998, sehari setelah pengunduran diri massal, Soeharto mengumumkan pengunduran dirinya sebagai Presiden Republik Indonesia, menandai akhir dari pemerintahan Orde Baru yang berlangsung 32 tahun.

Berita terkait