Saya Buta tapi Bukan Peminta-minta
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Seorang pria buta total sejak 2003 menceritakan pengalamannya ditolak bantuan semprotan di sebuah warung Padang, menolak karena ia dan istri datang sebagai konsumen biasa, bukan peminta-minta. Kisah ini memicu pertanyaan sosiologis tentang mengapa masyarakat cenderung memosisikan tubuh difabel sebagai objek belas kasihan. Dalam narasi publik, isu disabilitas sering terjebak dalam dua kutub ekstrem: poverty porn yang mengeksploitasi rasa malang, dan inspiration porn yang berlebihan memuji. Posisi dan pencapaian seseorang difabel dipengaruhi oleh interseksionalitas identitas seperti kelas ekonomi, lokasi geografis, etnis, dan gender. Penulis menekankan bahwa keberhasilannya tidak lahir dari ketamuan pribadi, melainkan dari dukungan sistem seperti pendidikan inklusif dan beasiswa LPDP. Namun, skenario bisa berbeda bagi perempuan difabel atau mereka dari latar belakang ekonomi lemah, yang sering menghadapi diskriminasi berlapis dan pembatasan mobilitas sosial.
Bagikan
Berita terkait
Menaker: Kerangka ketenagakerjaan ASEAN berdampak bagi SDM-dunia usaha
ANTARA News · 27 Agustus 2026 pukul 11.27
Perempuan Disabilitas Disekap dan Diperkosa, 5 Pria di Pasaman Barat Jadi Tersangka
JPNN.com · 27 Agustus 2026 pukul 09.16
Perempuan: Dari Penyokong ke Produsen Pengetahuan NU
Media Indonesia · 27 Agustus 2026 pukul 05.00
Dorong Ekonomi dan Keuangan Inklusif yang Responsif Gender bagi Kelompok Usaha Subsisten
Media Indonesia · 24 Agustus 2026 pukul 13.52