Sekolah Rakyat pilah karakter siswa, cegah penularan perilaku berisiko
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Sekolah Rakyat menerapkan sistem pemilahan khusus terhadap siswa yang memiliki kecenderungan perilaku psikososial berisiko sebelum digabungkan dengan siswa lain di lingkungan asrama. Menurut Prof. Mohammad Nuh, ketua tim formatur, tujuannya agar interaksi antar siswa dari latar belakang sosial berbeda tidak memicu penularan perilaku negatif. Siswa yang memiliki perilaku mengganggu, seperti anak jalanan yang cenderung bebas, akan diisolasi dan dibina terlebih dahulu hingga membaik sebelum ditempatkan bersama teman sekamarnya.
Evaluasi penerimaan siswa baru di Sekolah Rakyat dilakukan berdasarkan tiga variabel utama: kondisi fisik dan kesehatan, profil psikososial, serta kemampuan akademik. Pemilahan juga diterapkan bagi siswa yang mengidap penyakit menular seperti tuberkulosis (TBC) agar dapat menjalani pengobatan.
Meskipun menggunakan sistem pemilahan, Sekolah Rakyat tetap menolak prinsip seleksi akademik dan larangan keras terhadap drop out. Program ini ditujukan khusus untuk anak-anak dari keluarga miskin-rentan miskin (Desil 1-4) sebagai upaya mengentaskan kemiskinan melalui pendidikan. Mohammad Nuh menekankan bahwa Sekolah Rakyat tidak pernah mengeluarkan siswa, karena bertanggung jawab atas kelangsungan dan pengembangan karakter anak-anak tersebut.
Bagikan
Berita terkait
Wamensos Dorong Sekolah Rakyat Putus Mata Rantai Kemiskinan Antargenerasi
Detik.com · 27 Agustus 2026 pukul 21.16
Wamensos: Negara Jemput Anak Keluarga Miskin untuk Putus Mata Rantai Kemiskinan
kumparan · 27 Agustus 2026 pukul 20.54
Sekolah Rakyat Segera Dibangun, Bupati Mamuju Tengah Serahkan Sertifikat Lahan ke Kemensos
Liputan6.com · 27 Agustus 2026 pukul 10.41
Gus Ipul soal Sekolah Rakyat: Pendidikan Kunci Indonesia Adil & Makmur
Detik.com · 23 Agustus 2026 pukul 21.59