Jakarta · Senin, 17 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Senjata AS Disebut "Sakaratul Maut", Trump dan Pentagon Pasang Kuda-Kuda

Pejabat Gedung Putih dan Pentagon membantah laporan kekurangan senjata kritis pasca lima bulan konflik dengan Iran. Presiden Donald Trump menyalahkan administrasi Biden atas pengiriman amunisi Patriot gratis ke Ukraina dan Eropa, mengklaim persediaan AS tetap paling besar di dunia. Juru bicara Pentagon Sean Parnell menegaskan militer AS memiliki kemampuan mendalam untuk melaksanakan misi kapan saja.

Namun, laporan CNN dan analisis CSIS (27 Juli) menunjukkan realitas berbeda: 80% pencegat THAAD dan separuh Patriot telah habis, menyisakan hanya sepertiga rudal Patriot dan setengah THAAD. CSIS memproyeksikan pemulihan butuh minimal tiga tahun. Rudal ofensif jarak jauh ATACMS dan PrSM (harga ~US$1 juta/unit) juga hampir habis. Administrasi Trump meminta anggaran pertahanan US$95 miliar untuk TA 2027 plus US$21 miliar tambahan untuk pengisian ulang.

Ketua Staf Gabungan Dan Caine dilaporkan mengungkapkan kekhawatiran di ruang tertutup, memengaruhi keputusan Trump mundur dari eskalasi akhir Juli setelah MoU dengan Iran gagal. Penasihat CSIS Mark Cancian memperingati kekurangan ATACMS/PrSM memaksa penggunaan JASSM/Tomahawk atau serangan jarak dekat yang lebih berisiko. Krisis pencegat udara lebih serius karena tak ada pengganti setara, terbukti saat rudal Iran menembus pertahanan di Yordania (17 Juli) menewaskan tiga tentara AS. Setiap rudal yang terpakai mengurangi ketersediaan untuk deterrence terhadap China, membuat staf gabungan "sangat gugup".

Diberitakan juga oleh


Berita terkait