Seperempat Abad Tragedi 9/11
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Pagi 11 September 2001, penulis naik kereta bawah tanah menuju Manhattan. Tiba-tiba mendengar seruan tentang kebakaran Gedung Menara Warnet (WTC). Di Grand Central, melihat asap menyelimuti Manhattan dan menyaksikan pesawat menghantam menara WTC kedua lewat TV. CNN mengumumkan New York diserang teroris, awalnya menyebarkan video wanita berhijab yang tidak terkait langsung dengan 9/11. Staf Perwakilan RI untuk PBB diinstruksikan pulang. Di perjalanan pulang, penulis berdiskusi dengan sopir yang menyatakan 'crazy Muslims' sebagai penyebab kekerasan. Penulis menghindari konflik dengan kalimat damai. Di rumah, tetangga Katolik menyatakan tidak percaya Muslims melakukan ini. Komunitas Muslim memilih tetap beribadah dan meningkatkan keamanan. Imam-Imam New York menggelar rapat darurat. Penulis diminta hadir dalam konferensi pers lintas agama dan mewakili Muslim dalam pertemuan dengan Presiden George W. Bush di Ground Zero serta acara 'Prayer for America' di Yankee Stadium. Beberapa hari kaluar, anggota komunitas Muslim sekolah dihadapi kekerasan fisik dan pembunuhan. Inisiatif dialog antarumat beragama membantu mengurangi kebencian. 25 tahun kemudian, penulis menekankan pentingnya introspeksi daripada menebar kebencian dalam memperingati 9/11.
Bagikan
Berita terkait
Dampak Olahraga Jangka Panjang terhadap Kesehatan Otak dan Memori
Media Indonesia · 8 September 2026 pukul 14.45
Pesta Kembang Api Berujung Maut, 10 Orang Tewas Terkena Ledakan
CNBC Indonesia · 8 September 2026 pukul 14.33
Harga HP Naik Terus, Ini Panduan Beli Smartphone agar Tak Boncos
Liputan6.com · 6 September 2026 pukul 12.06
Kilas Balik 4 Orang Selamat Kala Pesawat Jatuh Tewaskan 520 orang
Detik.com · 5 September 2026 pukul 18.19