Jakarta · Senin, 31 Agustus 2026Cari
WargaKonoha

Singapura Terancam "Kiamat", Bocah-Bocah Kini Mau Diberi Rp 835 Juta

Singapura menghadapi krisis demografi akibat penurunan tingkat kelahiran yang tak terhenti. Pemerintah meluncurkan kebijakan baru dengan insentif hingga Rp835,7 juta per anak dari lahir hingga usia 17 tahun, mencakup biaya penitipan anak yang lebih rendah, cuti orang tua yang panjang, dan akses perumahan publik yang lebih mudah. Perdana Menteri Lawrence Wong menegaskan kebijakan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan perubahan mendasar dalam pendampingan keluarga.

Kebijakan ini diproyeksikan membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga beberapa dekade untuk memberikan dampak nyata. Para ahli menilai dukungan finansial relatif mudah diberikan, namun mengatasi faktor sosial dan budaya yang menghambat kelahiran tetap menantang. Tingkat kesuburan total (TFR) Singapura turun ke 0,87 pada 2025, jauh di bawah ambang stabilisasi populasi 2,1.

Pengalaman negara Asia lain seperti Korea Selatan dan Jepang menunjukkan bahwa ekspansi dukungan pengasuhan anak belum berhasil meningkatkan TFR secara signifikan. Beberapa ahli juga mengkhawatirkan beban tambahan bagi perusahaan akibat cuti orang tua yang lebih panjang, yang dapat meningkatkan biaya operasional.

Berita terkait