Singapura Terancam "Kiamat", Bocah-Bocah Kini Mau Diberi Rp 835 Juta
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Singapura menghadapi krisis demografi akibat penurunan tingkat kelahiran yang tak terhenti. Pemerintah meluncurkan kebijakan baru dengan insentif hingga Rp835,7 juta per anak dari lahir hingga usia 17 tahun, mencakup biaya penitipan anak yang lebih rendah, cuti orang tua yang panjang, dan akses perumahan publik yang lebih mudah. Perdana Menteri Lawrence Wong menegaskan kebijakan ini bukan sekadar penyesuaian kecil, melainkan perubahan mendasar dalam pendampingan keluarga.
Kebijakan ini diproyeksikan membutuhkan waktu bertahun-tahun hingga beberapa dekade untuk memberikan dampak nyata. Para ahli menilai dukungan finansial relatif mudah diberikan, namun mengatasi faktor sosial dan budaya yang menghambat kelahiran tetap menantang. Tingkat kesuburan total (TFR) Singapura turun ke 0,87 pada 2025, jauh di bawah ambang stabilisasi populasi 2,1.
Pengalaman negara Asia lain seperti Korea Selatan dan Jepang menunjukkan bahwa ekspansi dukungan pengasuhan anak belum berhasil meningkatkan TFR secara signifikan. Beberapa ahli juga mengkhawatirkan beban tambahan bagi perusahaan akibat cuti orang tua yang lebih panjang, yang dapat meningkatkan biaya operasional.
Bagikan
Berita terkait
Elon Musk Tiba-Tiba Sebut Populasi Manusia Bakal Punah, Ini Sebabnya
CNBC Indonesia · 30 Agustus 2026 pukul 06.45
Cara Singapura Putar Otak Biar Orang Nggak Takut Kawin
Detik.com · 26 Agustus 2026 pukul 06.30
Strategi Singapura biar Orang Nggak Takut Kawin
Detik.com · 26 Agustus 2026 pukul 06.30
Alasan di Balik Langkah Besar Singapura Manjakan Warganya yang Berkeluarga
Detik.com · 25 Agustus 2026 pukul 21.00