Skandal Baru Boeing, Jadi "Agen" Kirim Senjata ke Tentara Bayaran
Rangkuman otomatis · disusun dengan AI

Panel ahli PBB mengungkap dugaan keterlibatan pesawat Boeing dalam pengiriman senjata, drone, dan tentara bayaran untuk mendukung Pasukan Dukungan Cepat (RSF) di Sudan. Laporan tersebut memperkuat investigasi Reuters dan berdasarkan informasi dari empat sumber kredibel, termasuk kesaksian saksi mata. Temuan ini dijadwalkan resmi diterbitkan pada September.
Tiga pesawat Boeing 727 terlihat di Chad sejak November 2024, beroperasi dari Bandara N'Djamena. Dua pesawat berasal dari Kalitta Charters II di Michigan, sementara satu dibeli melalui perusahaan berafiliasi dengan Shaulis di Brasil. Pesawat-pesawat tersebut diduga sengaja menghindari pelacakan penerbangan dan mendarat di Nyala pada malam hari antara Januari hingga Juli 2026. Selain itu, sekitar 1.500 hingga 2.000 tentara bayaran asal Kolombia direkrut oleh perusahaan asal Uni Emirat Arab, Global Security Services Group (GSSG), yang mendirikan pangkalan di Nyala sejak Maret 2025.
Serangan RSF di al-Fashir pada Oktober 2025 menewaskan ratusan warga sipil dan sebelumnya dinyatakan PBB sebagai tindakan genosida. Berbagai pihak, termasuk perusahaan penerbangan dan pemerintah Chad, membantah keterlibatan langsung, sementara GSSG menegaskan kepatuhan hukum.
Bagikan
Berita terkait
Utusan PBB Mendesak Proses Politik yang Inklusif di Sudan
VOI · 7 September 2026 pukul 17.30
Kematian Ratko Mladic Si Pembantai 8.000 Muslim dan Misteri Senjata Israel dalam Genosida Bosnia
SINDOnews · 30 Agustus 2026 pukul 12.10
Sekjen PBB Sebut Kelaparan di Gaza dan Sudan Sebagai Tonggak Sejarah yang Memalukan
VOI · 26 Agustus 2026 pukul 13.00
Sekjen PBB sebut kelaparan Sudan dan Gaza tonggak sejarah memalukan
ANTARA News · 26 Agustus 2026 pukul 08.59