Jakarta · Jumat, 11 September 2026Cari
WargaKonoha

Strategi Konfrontasi Iran Jelang Pemilu Sela AS, Upaya Melemahkan Donald Trump

Iran dilaporkan meningkatkan aksi konfrontasi terhadap Amerika Serikat (AS) kurang dari dua bulan menjelang pemilihan umum sela (midterm elections) AS pada 3 November. Langkah ini dilakukan sebagai upaya untuk menambah beban konflik bagi Presiden Donald Trump. Lebih dari setengah tahun setelah perang meletus, Teheran memilih untuk meningkatkan tensi dan mengambil risiko kembali ke pertempuran habis-habisan, meskipun Trump menekan agar perang berakhir setelah pemilu karena klaim bahwa Iran tidak bisa bertahan lebih lama lagi.

Garda Revolusi Iran (IRGC) telah menargetkan 10 kapal yang mencoba melintasi zona terlarang di Selat Hormuz dan mengeklaim serangan terhadap pangkalan militer AS di Yordania. IRGC juga melarang akses pelayaran bebas di Selat Hormuz dan memperluas zona larangan di jalur energi vital yang mengangkut seperlima pasokan minyak dan gas alam cair dunia. Para analis, seperti Thomas Juneau dari Universitas Ottawa, menilai bahwa Iran merasa sedang memenangkan perang dan ingin mengeksploitasi kelemahan AS untuk membentuk kembali tatanan regional demi keuntungan mereka.

Strategi Iran bertujuan untuk menekan Partai Republik agar kehilangan kendali atas DPR dan Senat AS, sehingga Trump menjadi presiden lemah secara politis. Sanam Vakil dari Chatham House menjelaskan bahwa Teheran mencoba mengubah eskalasi menjadi daya tawar dengan memanfaatkan tekanan di Selat Hormuz untuk mengeksploitasi biaya politik dan ekonomi. Namun, strategi ini juga membawa risiko domestik bagi Iran akibat krisis ekonomi yang memicu protes besar pada Januari lalu, dengan potensi kemarahan publik yang terus meningkat.

Diberitakan juga oleh


Berita terkait